Aksi

Demo Tolak Otsus Plus di Papua, 7 Orang Ditangkap

Demo AMP di Yogyakarta 
JAYAPURA - 7 orang ditangkap ditangkap di Kantor Majelis Rakyat Papua (MRP) Kotaraja, Kamis (7/11) sekitar pukul  10.56 WIT gara-gara  menolak  akan disahkannya  Otonomi Khusus Plus.   


Kedatangan  Gerakan Mahasiswa Pemuda dan Rakyat (Gempar) Papua menolak dengan tegas gagasan Otsus Plus, yang juga tak diterima para anggota MRP. Aksi demo dilakukan  tanpa pemberitahuan kepada pihak  keamanan.  



Akibatnya kedatangan puluhan masiswa ini berbuntut saling adu mulut berakhir ricuh dengan aparat. 



Mereka yang ditangkap adalah Yason N, Alfa R, Yali Wenda, Agus Rumaropen, Beni Hisage, Claus  Pepuho, Harun Dimara, Samuel Wamsiwor.  Wakil Ketua I MRP Hofni Simbiak saat dikonfermasi SP membenarkan adanya penangkapan para mahaiswa yang datang tadi ke MRP untuk menyampaikan aspirasi. “Penyampaian aspirasi sah sah saja dan kami menyambut baik itu, mungkin penyampaian aspirasi selama ini tidak kesampaian hingga terjadi seperti ini.  Kami juga tak menerima pemberitahuan hingga tak menerima mereka tadi. Saya pihak aparat untuk segera  mereka  mereka segera dibebaskan,”ujarnya.   



Ditolaknya kehadiran Otsus Plus, baginya tidak ada soal. “ Itu hak warga negara dan mereka telah mengekpresikannya. Yang tidak berlangsung adalah kita tidak duduk dan berbicara baik-baik, sehingga menimbulkan akses seperti yang terjadi hari ini. Gempar sendiri Senin (4/11) lalu juga beraksi dengan membawa spanduk  bertuliskan, Stop Tipu Kami Lagi dengan Otsus Plus Papua, Rakyat Papua tolak Otsus Plus Papua, Gubernur Bunuh Rakyat Papua dan Otsus Plus Juga Akan Membunuh Rakyat Papua, melakukan longmarch dari depan Kampus Universitas Cenderawasih Perumnas III sejak pukul 11.00 WIT  ke Kantor Gubernur Papua, Senin (4/11) siang. Aksi demo damai ini mengusung aspirasi menolak Otsus Plus, atau Undang - 



“Kami meminta dengan tegas kepada gubernur Papua untuk segera menghentikan pembahasan Otonomi Khusus (Otsus) Plus karena Otsus yang sebelumnya sudah dianggap gagal oleh rakyat Papua dan belum ada evaluasi terhadap Otsus sebelumnya,” tegas Ketua BEM STIKOM, Daniel Kosama saat menyampaikan orasinya di depan Kantor Gubernur Papua.   



Dikatakan, selama 12 tahun perjalanan dari Otsus itu tidak ada yang mengembirakan dan juga tidak perlu dibanggakan, karena dengan adanya Otsus malah orang asli Papua (OAP) semakin termarginalkan di atas tanah leluhurnya sendiri.   Hal senada disampaikan  perwakilan perempuan Papua, Selfy Yeimo dalam orasinya mengatakan, bahwa Otsus Plus diciptakan atau dilahirkan bukan permintaan dari rakyat Papua dan juga dilahirkan bukan untuk mensejahterakan rakyat Papua.   



“Jadi, Otsus Plus datang hanya untuk memberikan keuntungan bagi para elit politik di tanah Papua saja. Seperti Otsus, dimana hasilnya tidak akan dinikmati orang asli Papua. Maka Otsus Plus harus ditolak,” tegas Selfy dalam orasinya.   



Koordinator GEMPAR dan juga Penanggung Jawab aksi demo Yason Ngelia dalam orasinya mengatakan, Otsus harus dievaluasikan kembali secara menyeluruh. “Bila perlu dilakukan referendum (pemungutan suara) terkait dengan Otsus Plus yang datang begitu saja karena hasilnya tidak pernah dinikmati oleh seluruh rakyat asli Papua,” ujarnya  dalam orasinya. 



Perjalan Otsus selama 12 tahun, menurut Yason, banyak sekali rakyat Papua yang mati. Padahal seharusnya di era Otsus ini manusia Papua harus dibangun dan disejahterakan, setelah itu baru Otsus Plus bisa dilahirkan kepada rakyat Papua. Sementara itu usai bertemu perwakilan pendemo Gubernur Provinsi Papua Lukas Enembe, mengatakan, aspirasi dari pemuda dan mahasiswa yang disampaikan kepada pihaknya yang mengklaim seluruh komponen rakyat Papua menolak Otsus Plus itu bukan seluruh masyarakat yang ada di atas Tanah Papua.   



“Jadi, aspirasi dari pemuda dan mahasiswa yang disampaikan kepada kami yang menyatakan bahwa seluruh komponen rakyat Papua menolak Otsus Plus itu bukanlah aspirasi dari seluruh masyarakat yang ada diatas tanah Papua. Tetapi ini hanya pernyataan dari segelintir orang saja. Kita bisa lihat massa yang datang kesini jumlahnya kecil, yakni hanya ratusan orang saja dan tak sampai 1000 orang. Lagian yang datang lakukan demo itu sebagian besar adalah mahasiswa bukan seluruh rakyat Papua,” ungkapnya. 



Kata Gubernur, demo ini hanya dilakukan oleh segelintir orang saja. Kemungkinan ini hanya kesalapahaman di internal kampus. Karena wacana untuk adanya Otsus Plus ini bukan dilahirkan oleh saya. Tetapi ini murni dilahirkan atas keinginan dari kalangan kampus dalam hal ini lembaga Uncen,”ujarnya. 



Dikatakan Gubernur, setelah melakukan berbagai macam kajian dan seminar tentang perjalanan Otsus selama 12 tahun oleh Uncen. Dan, berangkat dari kajian itu dilakukan sebuah renungan yang panjang. Kemudian dari hasil renungan itu membuahkan Otsus Plus selanjutnya hasil kajian akan disampaikan pada Pemerintah RI dalam hal ini Presiden SBY. “Meskipun aspirasi ini tidak mewakili seluruh komponen rakyat, akan tetapi aspirasinya tetap kami terima dan akan kami bahas di tim asistensi antara DPR Papua, DPR Papua Barat, MRP, MRPB, Gubernur Papua maupun Gubernur Papua Barat, dikarenakan hal ini merupakan persoalan bersama yakni menyangkut persoalan diseluruh Tanah Papua,”ujarnya 



Tak puas dengan pernyataan Gubernur Papua, kembali  puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa dan Pemuda Peduli Rakyat (Gempar) Papua menggelar aksi unjuk rasa dengan cara melakukan palang terhadap kedua akses pintu gerbang Kampus Uncen Atas Perumnas III. Aksi puluhan massa ini  juga membakar satu buah ban bekas, sehingga mengakibatkan kegiatan perkuliahan menjadi lumpuh selama seharian penuh, Rabu (6/11)
  
Aksi ini sebagai bentuk tindaklanjut dari pernyataan Gubernur Papua Lukas Enembe kepada massa Gempar Papua yang melakukan aksi demo pada Senin (4/11) saat menolak Otsus Plus dan RUU Pemerintahan Papua. Aksi yang dilakukan di depan Gapura Uncen Perumnas III tersebut dibubarkan oleh aparat kepolisian. Para pendemo ini kembali melakukan aksi disebabkan pernyataan Gubernur Papua, bahwa perencanaan Otsus Plus di Papua sebenarnya adalah ide dan gagasan dari para akademisi yang ada di lingkungan Uncen sendiri. “Karena program ini telah dijalankan oleh gubernur - gubernur yang sebelumnya, sehingga saya hanya melanjutkannya saja,”kata Lukas Enembe. [154]  

About Karoba News

Media Online Seputar Ekonomi, Politik, Sosial, Budaya, Pendikan, dan Kesehatan di Tanah PAPUA !
Powered by Blogger.