Berita

Apakah Otsus dan Pemekaran Obati Luka Bangsa Papua?

Untuk memberikan penjelasan dari judul di atas, penulis memberikan beberapa sub pertanyaanApa manfaat Otonomi Khusus(Otsus), pemekaran dan Otonomi Khusus Plus bagi Bangsa Papua?Apa sebenarnya obat bagi bangsa Papua untuk penyembuhan lukabatin mereka? Apa saja solusi untuk menyembuhkan luka batin dan penyakit bangsa Papua dari sudut pandang Antropologi?.
Apa Manfaat Otsus dan Pemekaran bagi Bangsa Papua?
Seperti yang kita ketahui bersama bahwa daerah yang diberikan Otsusdan pemekaran di Indonesia salah satunya adalah Provinsi Papua. Manfaat yang baik bagi Provinsi Papua dengan diberikannya Otsus dan pemekaran adalah supaya pembangunan dapat tercapai dan dapat maju seperti provinsi lainnya di Indonesia.
Juga karena atas dasar Papua yang masih terbelakang, termiskin dan tertinggal. Untuk mewujudkan hal-hal itulah, maka Otsus dan Pemekaran diberikan. Dan juga Pemerintah Pusat memberikan Otsus dan pemekaran bagi Papua agar supaya SDM dapat maju dan berkembang.
Nampaknyahal-hal di atas inilah yang menjadi ukuran bagi Negara Republik Indonesia bagi kemajuan Papua. Untuk membangun Papua semua dilihat dari kaca mata dan sudut pandang Pusat. Namunmenjadi persoalannyaapakah dengan memberikan program seperti ini bagi Papua dapat memberikan manfaat yang besar ataukah justru dapat menambah penderitaan Rakyat di atas Tanan Papua? Mari simak pada pembahasan selanjutnya.
Apa sebenarnya obat bagi bangsa Papua untuk penyembuhan luka batin?
Bekas luka tidak dapat hilang atau lenyap begitu saja. Seperti itulah yang dialami oleh bangsa Papua sejak dicaplokkannya Papua ke dalam NKRI pada tanggal 1 Mei 1963. Pada saat itu, rakyat Papua mulai mengawali suatu kehidupan yang penuh dengan penderitaan.
Hak hidup sebagai manusia pribumi Papua tidak dihormati oleh Negara Indonesia. Mulai dari tanah, hutan, laut sepenuhnya adalah milik kekuatan Negara. Nama Papua yang menunjukkan etnis pribumi Papua puluhan tahun dilarang oleh Negara Indonesia untuk menyebutNama Papua diganti menjadi Irian Jaya yang menurut versi Indonesia artinya "Ikut Republik Indonesia Anti Nederland" (IRIAN).
Ini adalah sebuah fakta sejarah yang menjadi luka masa lalu (memoria pasionis) yang membekas di setiap hati manusia Papua hingga saat ini.
Program seperti Otsus dan pemekaran sesungguhnya tidak dapat menjawab dan menyembuhkan luka batin mereka(orang Papua). Hal yang dijelaskan oleh Gembala kaum tertindas di tanah Papua Pendeta Dumma Socratez S. Yomandalam bukunya "OPM" adalah benar.  
"Mengapa Otsus ada di Papua Barat? Apakah itu itikad baik Indonesia terhadap Orang Papua? Apakah Otsus itu kemauan orang Papua? Jawabannya adalah bahwa semua orang Papua, orang Indonesia, maupun masyarakat internasional mengetahui dengan baik dan jelas bahwa Otsus ditawarkan kepada rakyat Papua Barat sebagaipenyelesaian menang menang (win win solution) tentang status politik Papua karena adanya tuntutan Orang Asli Papua untuk menentukan nasib sendiri (self determination)Yoman, hal. 32.
Pada buku yang sama, Yoman berbicara tentang Pemekaran. "Melalui Pemekaran wilayah Provinsi Papua Barat, kita terus mempertahankan keutuhan wilayah NKRI dari Sabang sampai Merauke. Karena dengan pemekaran wilayah, semangat dan nasionalisme Papua yang terus berkobar  apat dipadamkan secara bertahap dari waktu ke waktu dan sebaliknya rasa nasionalisme terhadap Indonesia terus dikobarkan,Yoman, hal. 57.
Jadi apakah Otsus dan pemekaran telah menyembuhkan luka batin bangsa Papua? Jawabnya tidak. Justru kedua program ini bahkan yang terbaru Otonomo Khusus Plus sebaliknya menambah luka di hati bangsa Papua.  
Belum menjawab tuntutan dasar bangsa Papua. Otsus, Pemekaran  dan Otsus Plus bagi orang Papua bukan solusi penyelesaian masalah berkepanjangan di tanah Papua. Apa sebenarnya solusi bagi bangsa Papua yang sesungguhnya?
Apa saja solusi untuk menyembuhkan luka batin dan penyakit bangsa Papua dari sudut pandang Antropologi?
Menurut sudut pandang Antropologi untuk membangun Papua dapat menggunakan pendekatan Etik dan Emik. Kita mustilah membangun tanah Papua dari susut pandang luar atau melihat dari sudut pandang dalam. Saya sebagai salah satu mahasiswa Antropologi ingin memberikan masukan dan saran kepada pemerintah Indonesia.
Bangsa Papua yang majemuk (yang terdiri dari 250 etnik) tidak bisa dibangun dengan satu pola, pola Jakarta. Sampai kapan pun itu tidak akan berhasil. Akan terus bergejolak dan bertolak belakang. 
Selama ini juga banyak program yang ditawarkan bahkan diberikan oleh Jakarta kepada bangsa Papua, contohnya Otonomi khusus, Pemekaran, UP4B dan sekarang Otsus Plus. Namun tidak juga menjawab tuntutan dasar bangsa Papua.
Baiknya, jika Otsus telah gagal, pemekaran tidak memberikan dampak serta yang terbaru yaitu Otsus Plus yang tidak jelas orientasinyamaka solusinya adalah pakailah pendekatan  Emik. Melihat masalah serta persoalan dari DALAM,bukan dari LUAR.
Mari Jakarta datang dan duduk bersama rakyat Papua dan tanya "Apa yang kalian mau hai bangsa Papua?". Di situlah baru akan ditemukan solusinyaJika kita tinjau kembali pada kebudayaan bangsa Papua secara keseluruhan, apabila ada suatu persoalan dalam kelompok etnik, maka akan dikumpulkan semua kepala etnik serta semua komponen masyarakat, atau pimpinan adat.
Setelah mereka kumpul, barulah dicari solusi dari masalah tersebuht. Saat itu tanpa ada paksaan, penindasan, teror-meneror dan ancaman-mengancam. Maka selesailah masalah. Maka dapatlah solusinya. Dapatlah jalan keluarnya. Luka batin dan penindasan bangsa Papua sembuh total.
Saya ingin katakan bahwa PENDEKATAN KESEJAHTERAAN DAN PEMBANGUNAN melalui Otsus dan Pemekaran dan sekarang Otsus Plus adalah bukan solusi dalam menyelesaikan berbagai konflik berkepanjangan di Papua. TernyataOtsus yang sudah berjalan 12 tahun sejak tahun 2001 sampai dengan tahun 2013 tidak mampu meredam masalah di Papua serta pemekaran yang diberikan di Papua seperti tumbuhnya jamur di musim hujan.
Saya mengingatkan bahwa orang Papua menginginkan sebuah pengakuan akan hak politikmenentukan nasib sendiri sesuai mekanisme hukum Internasional. Bagi orang Papua, 1 Mei 1963 yang diklaim sebagai hari integrasi Papua ke Indonesia adalah sebagai hari pencaplokan secara paksa oleh suatu tindakan amoral PBB, Amerika, Indonesia, Belanda sebelum Papua melaksanakan Plebisit tahun 1969. PEPERA 1969 penuh dengan manipulasi, cacat hukum, cacat moral dan mengorbankan hak hidup orang Papua.  
Selama masalah mendasar yang menjadi tuntutan orang Papua belum diselesaikan dan mendapat ruang demokrasi, maka selama itu pula konflik di Papua tidak akan berhenti. Pemerintah Indonesia harus membuka diri bagi orang Papua untuk menyelesaikan konflik Papua secara demokratis, bermartabat dengan menghargai nilai-nilai kemanusiaan diPapua.
Dengan sikap apatis Indonesia hanya menciptakan bumerang bagi gerakan militan di Papua.
Sebagai seorang mahasiswasaya ingin memberikan saran kepada pemerintah Republik Indonesia serta kroni-kroninya di tingkat daerah.
Pertama, kepada Pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonseia mari datang dan duduk serta mendengarkan isi hati rakyat Papua.
Kedua, jangan hanya memberikan program yang dilakukan tanpa kontrol dan pengawasan di tanah ini.
Ketiga, negara Indonesia tidak dapat menyembunyikan kejahatan atau pelanggaran HAM yang terjadi mulai dari tahun 1961 hingga kini saat ini dari mata dunia.
Keempat, mari negara Indonesia berikanlah obat sesuai dengan resepnya.
Tulisan ini adalah sebagai bentuk kepedulian dan keprihatinan dari bangsa Papua, umat kepunyaan Allah. Ketahuilah bahwa setiap perbuatan pasti ada pertanggungjawabannya.
Selphy Emigay Yeimo adalah mahasiswa Jurusan Antropologi Fisip, Universitas Cenderawasih Jayapura. 

About Karoba News

Media Online Seputar Ekonomi, Politik, Sosial, Budaya, Pendikan, dan Kesehatan di Tanah PAPUA !
Powered by Blogger.