Ekonomi

Ubi Jalar Di Papua Dalam Kuasa Beras

UBI JALAR atau ketela rambat (Ipomoea batatas) adalah sejenis tanaman budidaya. Bagian yang dimanfaatkan adalah akarnya yang membentuk umbi dengan kadar gizi (karbohidrat) yang tinggi. Di pegunungan Papua, ubi jalar menjadi salah satu sumber makanan pokok yang penting sejak lama. Selain dimanfaatkan umbinya, daun muda ubi jalar juga dibuat sayuran.
Ubi bagi orang Papua gunung, memiliki mitologi dan legenda. Singkat cerita, ubi dibawa oleh tokoh Kohei dalam Mite Kohei atau Koyeidaba. Mereka tidak setuju bila dikatakan ubi datang dari wilayah lain ke Papua.
Secara turun temurun, ubi dibudidayakan dan menghidupi orang Papua. Orang  gunung, di wilayah Mee misalnya, bisa membedakan ubi mana yang asli dan yang datang dari luar. Ubi asli dan yang dari luar mencapai 40-an varietas.
Kebijakan politik pengabungan Papua ke Indonesia pada tahun 1969 ikut pengaruhi budidaya ubi di wilayah pegunungan Papua. Perdebatan antara dua pendiri Indonesia, Sukarno dan Hatta atas  upaya pengabungan Papua ke Indonesia akhirnya benar-benar terwujud.
Saat itu, Sukarno berambisi memasukan Papua ke Indonesia. Lalu, Hatta membantah dan mengatakan, Papua terlalu jauh dan secara sosial budaya sama sekali berbeda, Melanesia dan Melayu.
Tetapi, Sukarno menangkis. Katanya, ada cara meng-Indonesia-kan orang Papua. Politik pangan dan politik pendidikan dilakukan sebagai solusi meng-Indonesia-kan orang Papua. Kurikulum pendidikan disusun sentralistik di seluruh Indonesia. Dan, makanan baru (beras) diperkenalkan kepada semua wilayah bekas jajahan Hindia Belanda.
Orang-orang Papua di wilayah pegunungan didrop makanan baru. Makanan yang lebih baik, beras? Orang mulai kenal makanan mewah. Itulah cikal-bakal bagaimana orang Papua gunung tinggalkan ubi dan berali ke makanan baru. Makanan dari  Jawa sana, tempat yang  dalam mimpi pun mungkin tak pernah mereka jangkau.
Lalu, dalam perjalanan panjang,  beberapa varietas ubi hilang. Senjata yang terbaru dan ampuh adalah beras Jaminan Pengaman Sosial (JPS) dan Beras Miskin (Raskin). Jakarta  memberikan beras JPS dan Raskin ke seluruh Indonesia hingga di desa-desa terpencil.
Orang-orang di kampung Papua seketika mengubah makanan pokok. Mereka tinggalkan ubi dan menambah daftar hilangnya ubi. Khusus di wilayah orang Mee di Papua, pada tahun 2013 ini telah hilang 25 lebih varietas dari 40-an varietas ubi.
Untuk mengatasi hal ini, upaya-upaya pembudidayaan ubi  terus dilakukan pemerintah dan gereja di Papua. Tetapi, tampaknya masyarakat sulit berhenti konsumsi beras tiap malam walaupun mereka tidak punya sawah. Foto di atas ini adalah salah satu upaya gereja di Epouto, Papua mengerakkan masyarakat untuk kembali menanam ubi sebagai makanan pokok.
Saat itu, tiap orang diwajibkan membawa tunas ubi dan keladi (ketela) ke gereja pada Pesta Daun Palma untuk diberkati Pastor. Beras  JPS dan Raskin adalah proyek besar yang belum berakhir. Sebagian masyarakat telah tergantung dan tinggalkan kebun. Saat nanti proyek JPS dan Raskin itu berhenti masyarakat akan kembali ke kebun.
Mereka akan mencari puluhan varietas ubi yang telah hilang. Mereka akan kembali mencari tanah mereka untuk menanam lagi. Tapi, ubi itu bukan umur jagung. Mudah-mudahan pengalaman Yahukimo tidak berulang saat menunggu masa panen. (MS)


About Karoba News

Media Online Seputar Ekonomi, Politik, Sosial, Budaya, Pendikan, dan Kesehatan di Tanah PAPUA !
Powered by Blogger.