Berita

Terkait Hari Pribumi, Ini Ajakan Aktivis

Yusak Pakage (Jubi/Mawel)
Jayapura – Aktivis Papua, Yusak Pakage mengajak masyarakat adat Papua untuk kembali melihat (merenungkan) kehidupan sebelum dan sesudah kontak dengan dunia luar. Kontak dengan dunia luar ini membawa kehidupan yang lebih baik, menjamin masa depan yang lebih baik atau sebaliknya. 


Ajakan Yusak terkait perayaan hari masyarakat pribumi Internasional yang jatuh pada 9 Agustus 2013 yang baru diperingati pada 10 Agutus di Aula Seeba  Guna P3W, Padangbulan, Abepura, Kota Jayapura, Papua, Sabtu (10/8). “Perayaan ini sangat penting untuk orang Papua refleksikan,” tutur Yusak ke tabloidjubi.com. 



Menurut eks tahanan politik  Papua Merdeka ini, refleksi sangat penting untuk melihat masa lalu Papua, masa kini dan masa depan orang Papua. “Orang Papua jangan diam saja. Perkebangan hidup masa lalu, sebelum agama, pemerintah datang ini harus kita refleksi,” ucapnya. 



Yusak menilai, kehidupan orang Papua sebelum agama dan pemerintah Indonesia menguasai Papua, lebih baik dari yang ada sekarang. “Sebelumnya, orang Papua sangat erat dengan alam, budaya, sejahtera, tidak terancam. Tapi, setelah agama dan pemerintah datang, kehidupan orang Papua terjadi sebaliknya, orang Papua terancam,” ujarnya. 



Orang Papua terancam, menurut Yusak, banyak hal menjadi ukuran. “Kehidupan manusia kuat, bertumpu pada budaya kini mulai terkikis. Orang Papua mulai melihat budaya sebagai sesuatu yang kuno, ini kan ancaman,” tuturnya lagi.



Orang Papua tidak lagi mencintai bahasa daerahnya. Orang Papua lebih suka mengunakan bahasa Indonesia, bahasa luar juga bagian dari ancaman besar. “Kalau kita lupa bahasa daerah, sama saja kita kehilangan warisan. Hilang warisan hilang harta karung,” pungkasnya. 



Kata dia, ancaman yang lebih nyata, yang ada di depan mata yakni orang Papua tidak aman di negerinya. Banyak orang Papua yang dicurigai, dikejar, di  penjarahkan dan di tembak mati. “Banyak yang sudah mati karena ancaman,” ucap dia lagi. 



Yusak menambahkan, jika  semua ancaman ini tidak disadari melalui satu perenungan, maka orang Papua akan punah. “Orang Papua terancam punah karena semua yang menjadi kekuatan mulai terkikis, orang Papua akan kehilangan jati diri dan identitas” tegasnya. 



Keprihatinan yang sama juga disampaikan pemimpin redaksi Tabloid Jubi, Victor Mambor. Menurut Victor, pengunaan nama tanah itu sangat penting untuk mempertegas  jati diri sebagai orang Papua. “Nama tanah itu menunjukan jati diri, identitas agar orang kenal, anak-anak saya dari Wondama karena nama tanah,” ujarnya. 



Nama tanah itu juga, lanjut dia,  pengenak, pengarah orang lain menunjukkan dusun, dan hak ulayat leluhur. “Dengan nama tanah, orang lain akan mengarahkan saya ke dusun saya,” tuturnya. Karena itu, tambah Victor,  sangat penting memiliki tanda pengenal, indentitas diri sebagai orang Papua. (Jubi/Mawel)

Sumber : www.tabloidjubi.com

About WP News

Powered by Blogger.