Diskusi

Tentang Hidup Kita


Oleh, Mikael Bukega*
Mikael Bukega. Foto: dok. pribadi.
Tentunya seorang manusia yang terlahir suci bersih dari seorang Ibu yang mulia. Ketika dilahirkan, kita bagai kapas dan kertas kosong, putih, tak bernoda. Aku terlahir dalam tangisan, namun disambut senyuman. Mengapa,Berkelana dalam hidup tanpa arah dan tujuan?
Tak mengerti kebaikan ataupun dosa, hanya menjalani hidup seperti umumnya manusia. Bersusah payah mencari nafkah, untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidup jasmaniah. Ke kampus makan, tidur, bekerja, dan bermain demikian yang aku jalani.
Namun hari ini, aku telah menemukan Jalan Kesadaran untuk hidup yang lebih bermakna. Bahwa hidup ini bukan untuk makan, tapi makan untuk hidup agar bisa berguna bagi kehidupan saya dan juga untuk masa depanku dan orang lain. Bahwa hidup yang paling utama adalah harus menemukan aku yang sejati terlebih dahulu.
Barulah kemudian dapat mengerti mengapa aku terlahir ke dunia ini. Karena selama ini aku telah kehilangan dan melupakannya. Bahwa nilai kehidupan itu bukan karena bisa berumur panjang dan hidup sampai tua.
Mengapa, apa gunanya berumur panjang, namun hidup penuh kesia-siaan? Nilai kehidupan berarti apabila aku dapat menanam kebaikan dan bermakna bagi kehidupan orang lain, dan kehidupan itu sendiri. Bahwa hidup di dunia ini adalah bagaikan bersekolah, tingkatan demi tingkatan harus dilalui. Belajar dan belajar. Kemudian juga harus mengikuti ujian.
Semua terus berlanjut sampai akhirnya hari penentuan. Apakah aku lulus atau tidak. Tentunya, semua tergantung nilai-nilai hidup yang aku dapatkan. Bahwa kini aku hanya manusia biasa yang terus mengikuti pelajaran dan mengejar nilai-nilai untuk pertimbangan masa kuliahku berikutnya; hidup bersama bangsaku di tanah airku, Papua!.
Bahwa kini dalam diriku masih begitu banyak kekurangan, harus terus memperbaiki diri, dengan terus berintrospeksi diri dan merenungi demi kecermerlangan nurani yang telah terkotorkan oleh keduniawian hidupku.
Bahwa aku selalu berharap para sahabat atau kakak untuk mengerti dan terus memotivasi agar aku lebih percaya diri lagi dalam menatap hari-hari.
Dan lebih dari itu, siapa tahu ada sahabat atau kakak yang mengalami seperti aku, sehingga kita bisa saling untuk menyadarkan dan menyatu dalam jalan kehidupan ini. Karena hidup kita bukan milik kita pribadi, dan untuk diri kita sendiri. Hidup ini adalah untuk sesama: diri sendiri, keluarga, sesama sebangsa dan setanah air Papua.
Terimakasih! 

Mikael Bukega adalah mahasiswa Papua, kuliah di Yogyakarta.

About Karoba News

Media Online Seputar Ekonomi, Politik, Sosial, Budaya, Pendikan, dan Kesehatan di Tanah PAPUA !
Powered by Blogger.