Berita

Suara Dari Aborigine Untuk Orang Papua

Di atas bahu ayahanda tercinta terasa dunia ini bebas terlihat
 tetapi besok jika kau sudah besar dan berdiri di atas tanah.
Barulah kau tahu ternyata bebas bukanlah sebuah pekerjaan gampang.
Butuh kerja keras dan kesabaran untuk berjuang meraih cita-cita.(Jubi/dam)
Jubi — Sally Morgan adalah seorang perempuan keturunan Aborigine Australia yang lahir pada 64 tahun lalu di Kota Perth Australia Barat. Dia menulis sebuah buku berjudul My Place, mengaku telah kehilangan segalanya, jejak leluhurnya,kebudayaan, adat kebiasaan, dan tanah air tempat berdiri sebagai warga.
Lebih lanjut dalam bukunya dia menulis, apakah aku tidak jujur pada diriku sendiri? Bagaimana sebenarnya menjadi orang Aborigine itu? Aku tak pernah hidup mengembara di belantara dan semak belukar menjadi pemburu atau mengumpulkan makanan. Aku tak pernah ikut Corroborees atau mendengar cerita Dreamtime. Sepanjang hidupku aku tinggal di kota dan mengaku kepada semua orang bahwa aku orang India. Aku hampir tak punya kenalan orang Aborigine. Apa artinya semua ini orang seperti aku.
Ia merasa yakin tanpa mengetahui sejarah dan asal usul dirinya dan keluarganya, ia tidak akan merasa sebagai manusia yang utuh. Ia tidak akan tahu di mana sebenarnya tanah yang pernah menjadi hak milik nenek moyangnya.
Hari ini kapal Freedom Flotilla dari Aborigin Australia mau singgah ke Papua untuk membawa pesan orang-orang Aborigin kepada saudara-saudaranya di Papua tentang pengalaman pahit mereka selama berabad-abad sebagai orang-orang yang terusir dari tanah leluhur. Terserah orang mau bilang kedatangan mereka hanya untuk cari sensasi dan kampanye Papua Merdeka tetapi itu bukan hal baru di Tanah Papua.
Pesan moral terpenting di sini adalah bagaimana kaum mayoritas di tanah leluhur harus menerima kenyataan hari ini sebagai suatu suku bangsa minoritas yang terpaksa harus hidup dari belas kasihan pemerintahan Australia. Bekas wartawan Kompas, Ratih Hardjono pernah menulis sebuah artikel berjudul, Mengenal Orang Aborigin, Juru Kuncinya Australia mengutip pernyataan Bulli yang bilang,“Kami tidak memerlukan uang, melainkan harga diri.”
Masalah sosial orang-orang Aborigin di Australia memang menyedihkan terutama kaum mudanya yang berusia 20 sampai 30 tahun banyak yang keluar masuk penjara. Perbandingan antara non Aborigin dan Aborigin yang dipenjarakan satu berbanding dua puluh tiga. Ini artinya setiap satu orang non Aborgine terdapat 23 orang Aborigin. Padahal mereka hanya satu persen dari jumlah penduduk Australia sesuai sensus 2011 sebanyak 22,32 juta.
Salah satu pesan dari Kedutaan Tenda Aborigin kepada Senator Carr telah menjelaskan bagaimana dalam 50 tahun masyarakat adat di Papua Barat telah berubah dari 96 % populasi di Tanah Papua menjadi sekitar 50 % pada tahun 2000. Bahkan mereka menegaskan pada 2030 populasi orang Papua akan menjadi hanya 13 % saja.
Alex Rumaseb mantan Ketua Bappeda Provinsi Papua dalam tulisannya dalam buku berjudul Ironi Papua menyebutkan migrasi penduduk ke Papua tidak terkendali menyebabkan banyak pendatang lebih banyak dari penduduk asli. Hasil sensus penduduk 2010 diperoleh data perbandingan penduduk antara pendatang dan penduduk asli di wilayah perkotaan adalah 70:30.
”Dari data jumlah penduduk yang tidak seimbang ini, nampakanya kebijakan yang diambil pemerintah di Papua yang nota bene orang Papua lebih banyak berpihak kepada pendatang,”tulisnya.
Data ini semakin jelas dalam sisi politik di mana beberapa pihak menggandeng para pendatang untuk berpasangan dalam pasangan Bupati dan Wakil Bupati. Pilihan ini tak dapat disangkal karena merebut kuota suara terbanyak dari masyarakat tambahan alias kaum pendatang.
Pastor John Djonga juga dalam bukunya berjudul Paradoks Papua menulis tentang komposisi penduduk di Papua. Akibat dari proses transmigrasi dan migrasi spontan, komposisi penduduk Papua dan non Papua berubah dari 96 : 4 menjadi 49:51 pada tahun 2010.
Sementara itu tingkat pertumbuhan penduduk menurut Pastor Djonga tingkat pertumbuhan penduduk asli Papua hanya 1,84 %, tingkat pertumbuhan penduduk non Papua dalah 10,82 %. Hal ini menyebabkan orang Papua dalam tiga dekade saja menjadi minoritas di tanah mereka sendiri. Dari total penduduk Papua pada 2010 sebanyak 3,612.854 orang asli Papua hanya terdiri dari 1,760.557 juta atau hanya 48,73 % saja.
Berdasarkan angka-angka di atas Pastor John Djonga peraih penghargaan Hak Asasi Manusia(HAM) Yap Thiap Ham memprediksi pada 2020, orang asli Papua akan menjadi hanya 28,00 % dari penduduk Papua. Dari tahun ke tahun presentasi itu akan semakin kecil, tak heran kalau tenda Aborigin menegaskan pada 2030 hanya 13 % saja.
Apalagi menurut Rumaseb dalam bukunya berjudul Ironi Papua, sifat orang Papua yang kebanyakan santai karena bergantung dengan alam yang telah memanjakan mereka selama berabad-abad sehingga kalah dalam bersaing dengan para pendatang dari sisi ekonomi.
”Mereka tersisih dinegerinya,”tulis Rumaseb seraya mempertegas dalam bukunya antara lain, situasi ini jelas menimbulkan kecemburuan sosial dan tak usah heran kalau pemalangan bisa terjadi terhadap beberapa pembangunan fisik karena menuntut ganti rugi ulayat dengan permintaan sejumlah dana yang nominalnya sangat tinggi.(Jubi/Dominggus A Mampioper)

About Karoba News

Media Online Seputar Ekonomi, Politik, Sosial, Budaya, Pendikan, dan Kesehatan di Tanah PAPUA !
Powered by Blogger.