Adat

Pegang Nilai-nilai Budaya


Orang Papua dalam lingkup suku bangsa yang tersebar di pelosok tanah Papua memiliki kebudayaannya sendiri. Kebudayaan itu unik, khas, dan hanya dijalani oleh anggota suku bangsanya.

Semua suku bangsa di Papua ada kesamaan. Namun,  perbedaan juga memang ada. Uniknya, orang Papua, dalam kesatuan kelompok suku-suku bangsa tersebut, ada pengetahuan mengenai keberadaan suku bangsa lainnya, yang turut menempati pulau surga ini. Dalam kesadaran dan pengetahuan akan adanya anggota suku lain tersebut, lahir yang namanya penghargaan  antar suku bangsa.

Artinya, penghargaan akan perbedaan yang melahirkan rasa saling menghargai sebagai sesama suku bangsa yang mendiami tanah Papua itu ada. Dan  pengetahuan dan pemahaman inilah yang menjadi pelicin terjadinya barter pada zaman dahulu dengan aman. Semua saling memahami karakter suku bangsa masing-masing.

Harmonis dengan Tuhan
Orang Papua percaya, ada kekuatan selain kekuatan yang mereka lihat di bumi ini, yang mengendalikan seluruh kehidupan mereka.

Suku bangsa Mee dari pegunungan menyebutnya Ugatamee, artinya 'dia yang menciptakan semuanya.' Kepercayaan itu ada. Suku-suku bangsa yang lain di pelosok tanah Papua pun demikian. Semua punya kepercayaan yang berbeda, namun seragam dalam arti dan makna, bahwa  ada kekuatan yang lebih besar di atas kekuatan manusia dan alam, yang menguasai dan mengatur hidup mereka.

Kepada kekuatan itulah mereka memohon, berdoa, mengucap syukur atas semua yang mereka  miliki. Saya setuju dengan pendeta Socratez Sofyan Yoman yang mengatakan tidak benar jika sebelum Injil masuk ke tanah Papua, orang Papua hidup dalam kegelapan.

Orang Papua telah menganal konsep ke-Tuhan-an sebelum injil masuk. Dalam suku bangsa Mee misalnya, semua bentuk larangan dan perintah adat telah terangkum dalam Touyee mana, yang biasa disharingkan secara lisan dari orangtua kepada anak, dan begitu seterusnya. Touye mana itu mirip dengan ajaran Alkitab.

Saya kira, contoh diatas juga sama dengan suku-suku bangsa yang lain. Pada intinya, orang Papua dalam lingkup suku bangsa percaya, hubungan mereka pribadi dengan kekuatan yang lebih diatas dari mereka itu (Tuhan) harus harmonis, agar hidup mereka harmonis di dunia.

Harmonis dengan Alam
Bagi orang Papua, alam adalah segalanya. Alam ibarat Ibu, sang pemberi hidup, yang menyediakan segalanya bagi mereka. Oleh karenanya, orang Papua selalu menjaga dan menghormati alam. Sebaliknya juga, alam menyediakan segalanya bagi orang Papua.

Alam Papua tidak pernah menjadi bencana, ancaman, dan mengganggu hidup orang Papua, selama orang Papua sendiri masih hidup harmonis dengan alam mereka.

Di beberapa suku bangsa di Papua, penghargaan akan alam yang memberi mereka hidup sungguh nampak. Misalnya, dalam suku Malind di Merauke, marga Mahuze menghargai sagu karena merasa marga Mahuze punya hubungan batin dengan sagu.

Atau pandangan suku Malind terhadap kelapa. Menurut mereka, kelapa adalah tanaman sakral. Buhnya tidak bisa diturunkan menggunakan tangan, tidak bisa diturunkan setandan, kulitnya tidak bisa dipotong-potong sembarang.
Atau dalam adat suku bangsa Mee. Orang Mee mengenal tanah sebagai mama penyedia segalanya. Oleh karenanya, dalam aturan adat, orang Mee dilarang memukul tanah, mengatakan sesuatu yang negatif terhadap tanah.

Orang Mee percaya, bila mereka mengatakan hal negatif terhadap tanah, tanah tidak akan menjadi subur untuk tanaman kebun mereka. Juga, bila mereka tidak menghormati hasil buruan dengan mematahkan tulang binatang hasil buruan sembarang, atau mengatakan hal negatif terhadap binatang buruan, Sang Pemelihara binatang buruan akan mendengar, dan pada tapahan berburu berikut, hasilnya tidak maksimal.

Intinya, manusia Papua dalam lingkup suku bangsa memunyai pandangan akan adanya kekuatan yang lebih besar dari mereka, yang memelihara mereka dan alam. Mereka juga menghormati alam sebagai penyedia segala sesuatu. Semua tercermin dari bagimana adat mengatur hubungan manusia Papua dengan alam.

Kehidupan Orang Papua Kini
Hidup orang Papua zaman ini jauh dari alam. Ketika agama masuk ke tanah Papua, ia sedikit merubah pandangan kebudayaan, menggeser nilai-nilai adat, serta memengaruhi tatanan hidup dalam wadah budaya dari orang Papua.
Ketika orang luar Papua masuk, mereka merusak hidup orang Papua dengan alam. Pelecehan terhadap alam  terjadi. Atas nama pembangunan, tempat tempat sakral di seluruh tanah Papua dihancurkan. Atas nama ketaatan terhadap agama, kebudayaan orang Papua dihancurkan.

Dengan berkembangnya perkembangan zaman, orang Papua mulai terpengaruh nuraninya untuk mulai melupakan ajaran budaya, dan terpengaruh dengan kehidupan trend.

Semuanya itu merusak moral hidup orang Papua. Hubungan harmonis dengan alam telah tiada, karena alam dirusak oleh orang Papua, juga orang luar Papua. Tanah tidak kita hormati lagi, ketika tanah dijual demi rupiah, demi pembangunan.

Akibatnya, segala bentuk ketimpangan terjadi. Orang Papua hidup kacau,  ketika mereka lupa akan tatanan adat yang harmonis. Orang Papua hidup terus kelaparan ketika mereka tidak menghargai tanah; tanah tidak menjadi subur untuk menumbuhkan tanaman mereka.

Iklim jadi tidak menentu, karena penebangan hutan yang adalah pelecehan terhadap penghargaan atas hutan sebelumnya. Juga, tatanan hidup manusia terganggu.

Kemerdekaan Hidup
Ketika orang Papua hidup dalam kepatuhan akan semua aturan adat, dan hidup harmonis dengan alam, justru dalam kepatuhan itulah, kita menikmati hidup dalam kemerdekaan sebagai orang Papua dalam lingkup suku bangsa itu.
Alam secara bebas dan bertanggungjawab kita manfaatkan. Alam juga menyediai kita segala yang kita butuhkan, dalam batasan sewajarnya, dan kita mesti  selalu menjaga kelangsungan dan keseimbangan alam, sehingga kita bersama alam saling membutuhkan.

Justru dalam keadaan seperti itu kita merdeka dalam arti sebenarnya: kita memiliki kebandirian hidup, kedamaian hidup, keharmonisan hidup dengan  Tuhan dan alam.

Bandingkan dengan hidup kita saat ini.  Globalisasi dan modernisasi mengajarkan individualisme yang nyatanya bertentangan dengan mental orang Papua yang pada dasarnya sosialis: ingin selalu berbagi dengan sesama, berjuang untuk kebahagiaan bersama.

Kucuran uang yang diberikan, membuat posisi alam tergantikan, dan kita kini menghargai uang, bukan lagi alam, membuat alam tidak lagi menghargai kita seperti dahulu.

Adat dan Kemerdekaan
Kemerdekaan sejati hanya ada pada nilai-nilai budaya kita. Itu hasil karya kita sendiri. Bila Papua merdeka, jangan sampai orang Papua tetap dijajah oleh mreka, dalam aspek hidup yang lain.

Dalam hal ini, budaya kita sangat-sangat kaya. Budaya kita telah sediakan nilai-nilai, bagimana kita mengatur hidup agar aman, damai, harmonis dengan Tuhan, dengan alam, dengan sesama.

Bila kita tidak kembali kepada nilai-nilai budaya, tidak kita proteksi dan pertahankan, tidak kita hayati untuk kemudian menjadi dasar hidup kita, menentang segala unsur yang menghancurkan hidup, bisa jadi, secara terselubung kita akan dijajah, walau (andai saja) Papua merdeka.

Hak dasar kita bangsa Papua tentang hak untuk menentukan nasib sendiri akhirnya memberi kita satu  pekerjaan rumah, yakni bagaimana orang Papua  bisa menggali kembali nilai budaya, dan mempersiapkan diri, melawan keinginan, melawan dunia dan sistimnya yang membelenggu dunia dengan isme-ismenya,  kita lawan dengan anak panah tekad, dengan dasar nilai-nilai hidup dan kebudayaan kita sendiri, agar  bangsa Papua menjadi bangsa yang merdeka seutuhnya.

Akhirnya, saya ingin menutup tulisan ini dengan membagi SMS seorang sahabat kepada saya, Sabtu, 29 Juni pagi: "Jika tidak kembali pada nilai-nilai  budaya, orang Papua tidak akan pernah temukan, lihat, bahkan kenal karcis untuk masuk ke surga leluhur."

Topilus B. Tebai adalah mahasiswa Papua, kuliah di Yogyakarta.

About Karoba News

Media Online Seputar Ekonomi, Politik, Sosial, Budaya, Pendikan, dan Kesehatan di Tanah PAPUA !
Powered by Blogger.