Adat

Kebudayaan Mesti Diangkat dalam Pendidikan di Papua

Marko Okto Pekey. Sumber foto: facebook.com.
Yogyakarta -- Menyikapi penyelenggaraan dan kebijakan-kebijakan dalam dunia pendidikan di tanah Papua, Marko Okto Pekey, mahasiswa Pascasarjana Jurusan Perdamaian dan Resolusi Konflik di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, mengatakan, pendidikan di Papua mestinya menjadi media pengangkat kebudayaan.

Hal ini disampaikannya kepada majalahselangkah.com saat berdiskusi di komplek UGM, Sabtu, (15/06/13) sore.

"Coba lihat, di Jawa, pendidikan mereka lebih maju dari segi kualitas. Tapi mereka maju berlandaskan kebudayaan. Misalnya saja bahasa. Mereka dari SD hingga Profesor tahu bahasa Jawa, dan sering menggunakan bahasa Jawa. Di Papua?," tanyanya sambil tersenyum menggeleng kepala.

Menurutnya, kebudayaan suku-suku di Papua mesti diangkat dalam ranah pendidikan sebagai upaya pelestarian kebudayaan. Menurut Pekey, bahasa daerah, filsafat daerah, juga seni hidup dan adat istiadat mesti diangkat dan diajarkan kepada generasi muda Papua saman ini, misalnya memanfaatkan pelajaran Mulok.

"Muatan Lokal atau Mulok itu kan bisa dijadikan tempat dimana di dalamnya diajarkan pendidikan tentang kebudayaan, menyangkut bahasa daerah, adat istiadat, sejarah bangsa dan suku bangsanya," kata mantan mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Fajar Timur Abepura ini.

Pekey benar ragu, kebudayaan orang Papua akan bertahan lama, bila tidak diproteksi dan dilindungi dari sekarang, misalnya dengan mengangkat kebudayaan sebagai bahan pelajaran di sekolah.

Ia mencontohkan bagaimana orang Papua dari suku Mee saat ini, dari setengah orang suku Mee yang dapat berbicara bahasa daerah Mee dengan lancar, sebagian besarnya kaku dalam menulis dan membaca tulisan berbahasa Mee.

"Orang yang betul berbudaya, khususnya dalam hal bahasa, adalah orang yang dapat berbicara dengan lancar, juga dapat menulis dan dapat membaca tulisan berbahasa daerahnya," kata Okto.

Bila kebudayaan Papua tidak diangkat dalam pendidikan Papua, misalnya dengan membentuk kurikulum khusus berkonteks Papua, dimana di dalamnya pendidikan sejarah Papua, sejarah suku bangsa, kebudayaan daerah, dan yang lain-lainnya digunakan.

Maka, menurut Pekey, kebudayaan orang Papua akan hancur, dan yang ada kemudian adalah generasi muda Papua tidak berbudaya.

Bila tidak disikapi serius masalah ini, ia percaya, suatu saat nanti, akan lahir manusia Papua berkulit hitam, berambut keriting, yang tidak tahu dari mana ia berasal, tidak memahami bahasa darahnya, yang akan mengagumi hasil karya leluhurnya yang terselamatkan di museum. (MS)

Sumber : www.majalahselangkah.com

About Karoba News

Media Online Seputar Ekonomi, Politik, Sosial, Budaya, Pendikan, dan Kesehatan di Tanah PAPUA !
Powered by Blogger.