Berita

Guru Harus Dukung Keinginan Anak Papua

Dari kiri, Erwin Baj Hita,’ Engel Kemeja kotak-kotak,
Amzal Zama Jas Kuning, Raymond (Jubi/Mawel)
 
Jayapura - Menurut Erwin, salah satu mahasiswa dari Fakultas Ekonomi Universitas Cenderawasih (Uncen), anak Papua tak mampu dalam ilmu eksata, itu hanyalah stigma yang membatasi anak Papua. 


“Sebab jika dilihat faktanya, anak Papua mampu dalam bidang-bidang eksata. Persoalanya, para guru tak memotivasi anak-anak asli Papua. Anak Papua itu sebenarnya sangat mampu, sayangnya kita jarang sekali masuk jurusan eksata,” katanya ke wartawan di Cafe Prima Garden, Abepura, Kota Jayapura, Papua, Sabtu (15/6). 



Sedangkan menurut Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum Uncen, Amzal Sama, akibat tak banyak dukungan dari orang tua, pemerintah dan guru-guru di sekolah, dari tingkat pendidikan dasar hingga perguruan tinggi, agar anak Papua masuk ilmu eksata,  dirinya dan rekan-rekanya sebagai mahasiswa Uncen mendesak pemerintah memberikan dukungan penuh kepada anak Papua. “Kepala dinas pendidikan dan bupati tekan guru-guru mempersiapan anak-anak asli Papua mencintai ilmu eksta,” tuturnya. 



Sehingga, kata Amzal, dengan dukungan pemerintah dan para guru harus mendukung anak Papua mencintai ilmu-ilmu eksata. “Mereka harus mendukung keinginan anak-anak yang mau belajar ilmu eksata sejak memilih jurusan. Para guru jangan lihat nilainya, tetapi lihat keiginan anak. Guru harus mendukung keinginan anak,” tuturnya.




Menurut Amza;l, cotonhnya, seorang bernama Richo Kobak yang mantan siwa SMA jurusan  IPS yang kini menempuh pendidikan pilot di Amerika. “Waktu di bangku SMA, Richo memilih masuk kelas IPA. Tapi para guru mengatakan kamu tidak mampu, lalu arahkan masuk IPS, tetapi kini dia sedang mempersiapkan diri menerbangkan pesawat di Amerika Serikat,” tutur pria asal Yahukimo ini. 



Sehingga, salah satu mahasiswa Uncen, Raymond May mengatakan, Gubernur Papua harus memberikan arahan ke para kepala daerah kemudian diteruskan kepada guru-guru untuk berhenti menstigma anak Papua tak mampu. “Gubernur harus memberikan instruksi kepala-kepala daerah tidak boleh ada stigma anak Papua tak mampus,” tuturnya. 



Arius Yahuli, salah satu mahasiswa dari Fakultas Tehknik Uncen, menilai stigma itu bagian dari pembunuhan karakter anak Papua. “Stigma tidak mampu itu secara tidak langsung membunuh karakter anak asli Papua,” ujarnya. (Jubi/Mawel)

About Karoba News

Media Online Seputar Ekonomi, Politik, Sosial, Budaya, Pendikan, dan Kesehatan di Tanah PAPUA !
Powered by Blogger.