Adat

TNI Melakukan Penyelesaian Kasus Penembakan Dengan Keluarga Korban

Wadanyon 756/WMS, Mayor Inf Tuwadi menyerahkan
uang sebagai denda adat kepada pihak keluarga korban. (JUBI/ISLAMI)
Wamena – Setelah hampir satu minggu lebih pasca kejadian penembakan warga sipil yang dilakukan oknum anggota Batalyon 756/WMS di Wamena, akhirnya pihak keluarga dan TNI menyepakati perdamaian setelah adanya pembayaran denda adat oleh pihak Batalyon 756/WMS. Hal itu disepakati dalam pertemuan lanjutan pembayaran denda adat, Selasa (21/5) di Halaman Polres Jayawijaya yang dihadiri Bupati Jayawijaya, Wempi Wetipo, SH, MH, Dandim 1702 Letkol Inf Yusuf Sampetoding, Wadanyon 756/WMS, Mayor Inf Tuwadi, Wakapolres Jayawijaya, Kompol Asfuri, S.ik. Bunyi dari kesepakatan perdamaian tersebut, setelah pihak keluarga korban menerima tawaran nilai denda adat setelah Bupati Jayawijaya Wempi Wetipo atas nama pemerintah daerah mengambil alih persoalan yang terjadi agar persoalan tersebut tidak berlarut-larut. Penyelesaian denda adat yang diajukan pihak keluarga korban, Bupati mengatakan, berdasarkan pembicaraan yang telah dilakukan antara pemerintah Kabupaten Jayawijaya dengan Batalyon 756, Kodim dan Kepolisian, Bupati atas nama pemerintah daerah membantu penyelesaian denda adat berupa uang tunai sebesar Rp.400 juta ditambah dari Batylon 756 sebesar Rp.100 juta, sehingga totalnya Rp.500 juta yang diserahkan ke keluarga korban. “Saya sengaja mengambil alih persoalan ini, agar tidak berlarut-larut melihat waktu pelaksanaan Pesparawi yang sangat dekat,” kata Bupati dihadapan seluruh keluarga korban. Dikatakan, pengambilalihan kasus ini dimaksudkan sebagai bentuk kepedulian Bupati terhadap masyarakatnya yang mendapat musibah. Selain itu, agar Kota Wamena tetap aman dan kondusif serta tidak terjadi keributan yang dilakukan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab yang memanfaatkan situasi perselisihan antara TNI dengan masyarkat. “Saya hanya berharap Wamena aman, karena Wamena tempat untuk semua orang karena merupakan tempat bagi semua orang semua pihak harus bisa menjaga keamanan,” kata Bupati. Diakui Bupati Wempi, bantuan diberikan dalam penyelesaian denda adat ini nilainya memang tidak seberapa, namun yang perlu dipahami bahwa bantuan ini tidak ada dalam APBD, Pemda bantu Rp.400 juta ditambah Batalyon Rp.100 juta dan perlu diingat nilai hidup seseorang tidak bisa dihargai dengan uang. Untuk itu Bupati meminta, keluarga korban bisa menerima itikad baik ini dengan rela dan iklas agar persoalan yang ada tidak berlarut-larut. Disisi lain Dandim 1702, Letkol Inf Yusuf Sampetoding dihadapan keluarga korban menyampaikan, atas kejadian ini TNI cukup dirugikan atas perbuatan salah satu anak buahnya, karena menurutnya dalam penyelesaian permasalahan yang ada saat ini pihak TNI tidak menyediakan anggaran. “Tidak ada anggaran yang disediakan TNI untuk hal-hal pembayaran denda seperti ini,” tegas Dandim. Atas tawaran perdamaian itu, mewakili pihak keluarga, Pianus Wenda sangat berterimakasih atas bantuan yang diberikan Bupati walau dana yang diberikan seharusnya untuk pembangunan daerah. “Kebijakan Pak Bupati ini kami ucapkan terima kasih, atas kepeduliannya kepada keluarga korban, walau kami tahu uang ini tidak ada dalam APBD dan seharusnya lebih bermanfat untuk melakukan pembangunan di daerah ini,” ujar Pianus. Mengakhiri penyelesaian denda adat, mewakili Danyon 756, Wadanyon Tuwadi kemarin menyerahkan secara simbolis denda adat berupa uang sebesar Rp.500 juta kepada perwakilan keluarga korban dari tuntutan Rp.10 miliar yang diajukan sebelumnya. (JUBI/ISLAMI)


About Karoba News

Media Online Seputar Ekonomi, Politik, Sosial, Budaya, Pendikan, dan Kesehatan di Tanah PAPUA !
Powered by Blogger.