Berita

158 TAHUN, GEREJA MASIH DI AWANG-AWANG

Suasana Seminar Sehari (Jubi/Mawel)
Jayapura — Pesta Pekabaran Injil 158 tahun ini, menurut Ketua Persekutuan-Persekutuan Gereja Baptis Papua (PGBP), Sokrates Sofyan Yoman, wajah Gereja masih di awang-awang. Gereja belum menemukan jati dirinya dalam diri dan budaya orang asli Papua.

Orang Papua masih mencari dan melihat wajah Kristus dalam gereja tidak utuh. Wajah Kristus masih terbagi-bagi ke dalam kepentingan kelompok tertentu. Kelompok tertentu menjadikan gereja dan ajat-ajat suci Alkitab untuk menghibur diri dan gereja menjadi korban penguasa.

“Gereja tidak harus menghibur diri dengan ayat-ayat Firman Allah di mimbar.  Polisi, tentara tangkap KNPB tidak apa-apa, karena pemerintah wakil Allah. Pemberitaan Injil harus holistik,” kata  Sofyan Yoman dalam seminar Sehari 158 tahun Injil di Tanah Papua, Sabtu (2/2) di STT. GKI, Abepura, Kota Jayapura, Papua.
Karena pemberitaan injil sangat parsial, menurut Sokrates, 158 tahun gereja masih diawan-awan. Gereja sudah lumpuh karena kekuatan negara. Otoritas Negara melumpuhkan otoritas gereja.

“Gereja tidak didirikan negara. Gereja memiliki  otoritas sendiri.  Negara ada berdasarkan otoritas manusia berdasarkan kepentingan-kepentingan. Gereja ada atas otoritas Allah, atau Ilahi.” tegas Yoman.

Namun, menurut Sokrates, suara kritis gereja dibawa otoritas Allah  tidak pernah ada. Gereja masih kompromi dengan penguasa negera yang jelas-jelas menindas rakyat. “Injil tidak kompromi, Yesus tidak netral. Keberpihakan Yesus sudah jelas kepada manusia tertindas. ” ujar Sokrates.

Sikap kompromi gereja terhadp pemerintah, menurut Sokrates merendahkan otoritas gereja. “Pemimpin gereja merendahkan otoritas gereja,” katanya. Sikap kompromi ini membiarkan semua orang Kristen terpenjara. “Satu orang Kristen Papua terpenjara semua orang Kristen terpenjara. Gereja terpenjara karena iman Kristen,” tegas Yoman.

Sikap pemimpin gereja merendahkan otoritas gereja itu terlihat dengan menunjuk pemerintah menjadi panitia PI tahun 2013. “Pemerintah tidak boleh mencampuri urusan gereja. Ini merendahkan martabat gereja,” katanya. (Jubi/Mawel)

About Karoba News

Media Online Seputar Ekonomi, Politik, Sosial, Budaya, Pendikan, dan Kesehatan di Tanah PAPUA !
Powered by Blogger.