Berita

Setia Mengabdi Demi Adik-adik di Kampung


Paniai – Peduli masa depan anak-anak negeri yang ada di kampung-kampung, guru honorer dengan segala keterbatasan masih setia mengabdi. Mereka setiap hari mengajar murid-murid di sekolah. Namun, kepedulian dan pengabdiannya terabaikan. Belum dilirik pemerintah. Praktis, nasib dan kesejahteraannya tak menentu di tengah beratnya tanggungan beban keluarga.
Anak-anak sekolah di Epouto, Distrik Yatamo, Paniai. Foto: Markus You
Petrus Tatogo, seorang guru honorer di SD YPPGI Uwebutu, Distrik Yatamo, Kabupaten Paniai, melihat pentingnya pendidikan bagi generasi penerus sebagai satu hal mutlak yang harus diseriusi semua pihak terutama pemerintah melalui dinas teknis terkait.
Selama lima tahun, ia tak mengenal lelah mengabdi di sekolah yang dibangun di kampung halamannya. Sekolah itu didirikan beberapa tahun lalu. “Selama ini saya rasakan sendiri, guru kalau tidak mengajar, kasihan anak-anak di kampung, mereka tidak akan belajar,” kata Petrus Tatogo di dermaga Epouto, baru-baru ini.
Tak ada kegiatan belajar mengajar (KBM), sudah pasti anak usia sekolah memilih berkeliaran di jalanan. Ada yang ikut orang tua ke kebun atau cari kayu di hutan. Pada jam-jam sekolah, banyak pula yang mudah ditemui di Kota Enarotali. “Begitu terus itu mereka tidak akan pintar seperti halnya anak-anak lain yang sedang sekolah. Jadi, kita harus serius perhatikan anak-anak ini sebagai pengganti kita di kemudian hari, bukan malah biarkan mereka tidak bersekolah akibat tiadanya tenaga guru,” tuturnya.
Ia kemudian membandingkan kesetiaan guru-guru honorer atau guru sukarela dengan tenaga pendidik yang ber-NIP atau guru PNS. Guru tersebut sudah pasti hak-haknya dibawah tanggungan negara. Namun tidak jarang dalam kenyataannya absen menjalankan tugas utamanya mendidik dan mengajar anak-anak di sekolah. Tak sedikit pula yang mondar-mandir di kota, melupakan tugasnya di sekolah.
“Di Paniai ini jumlah guru terbatas. Fakta ini sudah diketahui oleh pihak dinas. Guru kurang, yang ada juga malah malas mengajar. Lalu, mau arahkan kemana anak-anak kita ini?.”
Bagi Petrus, persoalan ini baiknya segera disikapi. Bila perlu Kepala Dinas turun lihat langsung di sekolah-sekolah, tanyakan sama anak-anak, kira-kira guru siapa yang pemalas mengajar dan siapa yang selalu setia. “Ya, turun survei saja. Biar ada data jelas, supaya hal-hal itu dibenahi,” katanya berharap.
Demi masa depan generasi muda, peserta didik harus diselamatkan, bukan lagi guru mementingkan nasib pribadi semata dengan mengorbankan waktu untuk mengajar. Guru honorer, kata dia, walau diabaikan, masih setia menjalankan tugasnya di sekolah.
“Selama ini pemerintah tidak perhatikan nasib kami. Guru bantu dan guru honorer harusnya diprioritaskan. Kalau tidak diperhatikan berarti pendidikan kita akan hancur, saya prediksi begitu,” tandasnya.
Petrus Tatogo saat diwawancarai wartawan di Enarotali. Foto: Markus You
Kuantitas tenaga guru di Paniai, masih menurut Petrus, masih minim. Namun tenaga honorer atau guru sukarela yang ada pun tidak diperhatikan nasibnya. Sementara pembangunan fisik berupa gedung sekolah yang megah dilengkap mebelair terus diperhatikan pemerintah melalui Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kabupaten Paniai.
“Kalau pembangunan fisik seperti gedung sekolah, kita lihat sudah bagus. Gedungnya mewah, bukan hanya di sekitar kota saja, tetapi pihak dinas sudah dan sedang bangun gedung-gedung SD maupun SMP yang mewah di kampung-kampung, dilengkapi fasilitas dan laboratorium, perpustakaan,” puji Petrus Tatogo.
Kebijakan pemerintah memerhatikan pembangunan gedung sekolah berikut pengadaan sarana belajar harus diimbangi dengan penyediaan tenaga guru. Sebab, biarpun gedung bagus, jika tak ada guru, sama saja KBM tak akan berjalan sebagaimana mestinya. “Siapa yang mau ajar anak-anak di ruang kelas yang mewah itu kalau gurunya tidak ada?,” tanyanya.
Minimnya tenaga pendidik, diakui Kepala Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kabupaten Paniai, Drs. Amatus Amoye Tatogo. Kata dia, tenaga yang bisa diandalkan untuk mengisi kekurangan di sejumlah sekolah, sulit didapat. Sementara guru-guru tua bakal pensiun. Tahun 2013, ada ratusan orang guru akan pensiun.
“Penggantinya belum ada. Kita sudah terima guru, terakhir pada saat formasi tahun 2010. Tapi masih butuh banyak tenaga lagi, apalagi yang akan pensiun jumlahnya banyak sekali,” tuturnya.
#Kepala Dinas Dikjar Kabupaten Paniai, Drs. Amatus A. Tatogo. Foto: Markus Yo
Kepala Dinas Dikjar Kabupaten Paniai, Drs. Amatus A. Tatogo. Foto: Markus You
Dari rekrutmen pegawai yang sudah dilakukan, memang tidak seluruhnya sarjana berlatar pendidikan keguruan atau kependidikan. “Kita mau utamakan mereka, tapi susah. Yang melamar, banyak dari disiplin Ilmu-ilmu Sosial, ada Sarjana Sosial (S.Sos), Sarjana Ekonomi (SE), Sarjana Ilmu Pemerintahan (S.Ip), dan lain-lain. Merupakan tugas berat bagi kami untuk bekali mereka metode mengajar, ilmu pedagogi, dan lain-lain.”
Ke depan, harap Amatus Tatogo, anak-anak muda harus kuliah di jurusan Keguruan dan Kependidikan. Sehingga, selesai kuliah, pemerintah daerah siap terima dan tempatkan mereka di sekolah-sekolah sesuai jenjang pendidikan yang ada di Kabupaten Paniai.
Mantan Kepala SMP YPPK Santo Fransiskus Assisi Epouto-Moanemani ini juga mengapresiasi anak-anak pribumi yang dengan setia terus mengabdi sebagai tenaga sukarela. Bersama guru lain, mereka sudah dan sedang membangun fondasi kuat demi mewujudnyatakan tujuan pendidikan nasional di daerah ini. (007/MS)

About Karoba News

Media Online Seputar Ekonomi, Politik, Sosial, Budaya, Pendikan, dan Kesehatan di Tanah PAPUA !
Powered by Blogger.