Berita

SD Yiwika “Haus Perhatian”

AJI Papua

Tim Penulis : Cunding Levi, Nurmalina Umasugi dan Ayu Hamsina

Kondisi Pendidikan di Papua
Pendidikan merupakan salah satu faktor yang mencerminkan kualitas sumber daya manusia. Semakin tinggi tingkat pendidikan yang dimiliki maka akan semakin mudah seseorang untuk mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan penyerapan kemajuan teknologi. Namun ungkapan itu belum untuk menggambarkan pendidikan di Kampung Yiwika, Distrik Kurulu, Kabupaten Jayawijaya yang bejarak kurang lebih 20 kilometer dari Kota Wamena Ibukota Kabupaten Jayapura.

Dibangun pada tahun  1961 oleh Misionaris, SD YPPK Yiwika sampai saat ini beum mendapat perhatian Pemerintah, baik Pemerin-tah provinsi Papua  atau bahkan Peme-rintah Kabupaten Jayawijaya. SD YPPK Yiwika dibangun diatas lahan seluar 1.185 meter persegi, de-ngan banyak ba-ngunan 2 buah, masing-masing ba-ngunan terdiri dari kelas 1, 2, 3 dan atau bangunan lainnya terdiri dari kelas 4,5, dan 6.

Jumlah tenaga pengajar yang diperbantukan di SD YPPK Yiwika sebanyak 4 orang dan 1 tenaga honorer serta 1 kepala sekolah. Diakui Moses, mereka sangat kekurangan tenaga pengajar, selama ini untuk memenuhi kebutuhan belajar mengajar, pihak Yayasan memperbantukan gembala di gereja untuk mengajar mata pelajaran olahraga dan bahasa Inggris.
 “Tenaga pengajar disini sangat minim, kami juga sudah usulkan ke Dinas untuk menambah tenaga pengajar, sayang belum direspon hingga saat ini,” terang Moses.

Jumlah siswa yang bersekolah kurang lebih 173 siswa yang terdiri dari siswa kelas 1, laki-laki sebanyak 27 orang, perempuan sebanyak 19 orang. Siswa kelas 2 sebanyak 24 orang terdiri dari laki-laki 11 orang, perempuan 13 orang, kelas 3 sebanyak 26 orang, laki- laki 20 orang dan perempuan 6 orang. Sedangkan kelas 4 sebanyak 29 orang diantaranya laki-laki 18 orang, perempuan 11 orang. Kelas 5 sebanyak 24 orang, laki-laki berjumlah 16 orang, perempuan sebanyak 8 orang dan kelas 6 sebanyak 24 orang dengan banyaknya siswa laki-laki 16 orang, perempuan 8 orang.

Sekolah ini juga memiliki satu ruang aula yang biasa dijadikan pihak sekolah untuk rapat bersama para orang tua murid, 1 ruang guru, 1 perpustakaan dan 1 toilet. Dari luar, bangunan sekolah tampak seperti pemukiman warga, sebab dikelilingi pagar dari akar pohon dan ilalang setinggi 1,5 meter.
 “Pagar – pagar ini memang sengaja dibuat tinggi. Karena biasanya ada babi yang ikut masuk ke dalam kelas, sehingga mengganggu aktivitas siswa disini. Maka atas inisiatif kami semua, dibuatlah pagar ini dengan bantuan orang tua murid,” kata Moses Pekey, Kepala Sekolah SD YPPK Yiwika ketika periset menemuinya di lokasi sekolah.

Ya, SD Yiwika memang dipagari setinggi 1,5 meter hingga tampak dari luar sekolah ini seperti pemukiman warga yang terdiri dari 2 bangunan dipenuhi pepohonan dan aneka  bunga di bagian lahan kosong yang rencananya akan didirikan honai oleh pihak sekolah. Menurut Moses, sejak dipagari, babi liar yang bereliaran di kawasan warga itu tidak lagi memasuki lingkungan sekolah. Anak-anak dengan tenang menerima pelajaran. Namun sayang, meski sudah terbebas dari ancaman babi yang biasa menerobos masuk ke dalam kelas. Ratusan siswa-siswa di SD YPPK Yiwika belum sepenuhnya terbebas dari ancaman, sebab bangunan sekolah mereka yang 70 % mulai menampakan kerusakannya kini jadi masalah baru bagi mereka.

Moses mengaku, setiap musim penghujan tiba, tak peduli sedang ujian atau melakukan tes sekolah, ratusan siswa di SD YPPK terpaksa diliburkan. Pihak sekolah tak ingin mengambil resiko dengan tetap melanjutkan proses belajar mengajar. Sebab bangunan sekolah rusak dan air hujan akan masuk ke dalam ruang kelas. Moses menceritakan kalau pada satu ketika atap sekolah pernah terlempar setelah diterjang angin kencang, air hujan langsung menerobos masuk ke dalam kelas. Beruntung tidak ada korban jiwa, mulai saat itu, setiap musim penghujan tiba, anak-anak sekolah di SD YPPK Yiwika akan dipulangkan.

Kepada kami, Moses menunjukan dua bangunan sekolah yang 80 % rusak parah, atap bangunan jika ditengok akan menembus ke langit, sebagian dinding bangunan yang terbuat dari papan dan beton juga ada yang sudah retak. Lantai ruang kelas yang terbuat dari semen juga sudah hancur hingga menimbulkan debu setiap kita melangkahkan kaki. Terbayang oleh kami, bagaimana sengsaranya para siswa di SD YPPK Yiwika ketika mereka belajar dengan kupalan debu yang naik dari lantai. Mereka bisa saja menderita sakit paru akibat kebanyakan menghirup debu.

Tidak jauh berbeda dengan dua bangunan kelas, ruang guru SD tersebut juga sangat parah. Dibangun dengan luas 3 x4 meter dan beratapkan seng ruang guru yang berada persis dibelakang bangunan kelas 1,2 dan 3 itu nampak seperti kandang kambing. Jendelanya terbuat dari rang besi, lantai bangunan yang terbuat dari semen namun serupa dengan ruang kelas, lantai ruang guru juga hancur berantakan hingga tak tampak lagi semen yang menutupi tanah itu. Di depan pintu masuk ruang guru ada sebuah meja yang berisikan tumpukan buku-buku bacaan usam, sampul-sampul buku-buku itu entah kemana perginya sehingga yang tampak hanya isi bagian dalam buku, satu meter dari arah meja tersebut ada dua buah meja tanpa kursi. Sedangkan pada dinding-dinding bangunan ada satu buah gambar bertuliskan 6K, tepat di bawah gambar tersebut ada satu buah meja yang diatasnya terdapat satu mesin ketik. Menurut Moses mesin ketik itu digunakan untuk menyusun laporan harian guru serta mengetik absensi guru dan anak-anak sekolah dan untuk menyusun keuangan sekolah.

“Ini ruang apa?” tanya Ayu kepada Moses
 “Ini ruang kepala sekolah dan staf, seperti inilah kondisi sekolah kami ruang guru hanya seadanya,” ucap Moses.

Persis diantara bangunan ruang kelas dan ruang guru, berdiri satu perpustakaan dan satu toilet, jumlah buku yang tersedia di perpustakaan kata Moses sangat banyak. Karena sekolah menerapkan sistem Managemen Berbasis Sekolah (MBS) sehingga pihak sekolah selalu mendatangkan buku-buku pelajaran terbaru dengan menggunakan anggaran pribadi sekolah.

Kata Moses, bantuan yang diberikan oleh Pemerintah Provinsi Papua kepada SD YPPK Yiwika melalui dana Biaya Operasional Sekolah (BOS) sebesar Rp.10 ribu per siswa, SD YPPK Yiwika sendiri menerima total bantuan dana BOS Provinsi Papua sebesar Rp.4,9 juta per tahun untuk 173 siswa. Bantuan ini diserahkan langsung kepada Yayasan per tri wulan sekali, selanjutnya oleh Yayasan dibagikan ke pihak sekolah untuk belanja keperluan sekolah seperti seragam sekolah dan alat tulis. Selain bantuan dana BOS Provinsi Papua, SD YPPK juga mendapatkan bantuan berupa dana BOS Pusat dan dana Bos Kabupaten yang nilainya juga sama dengan dana bantuan dari Pemerintah Provinsi Papua. Dana – dana tersebut, kata Moses digunakan untuk membiayai ujian sekolah dan ujian Nasional seperti yang akan di hadapi anak kelas 6 pada bulan Juni mendatang. Dia juga menampik adanya pungutan biaya ujian kepada masing-masing sekolah.

Sangkaan akan pungutan biaya ujian oleh Moses itu juga dibenarkan para orang tua murid, Maria Mabel salah satu orang tua murid SD YPPK Yiwika yang ditemui oleh kami juga mengaku terbebas dari biaya ujian sekolah. Selaku orang tua murid, kata Maria mereka hanya membekali anak mereka dengan makanan karena jelang ujian anak – anak dipulangkan hingga sore hari.
 “Tidak ada uang ujian, torang cuma disuruh kasih bekal anak saja. Karena donk ada les sampe sore,” kata Maria.

Selain mendapatkan bantuan dana, SD YPPK juga mendapat bantuan buku paket, tiap tahunnya SD ini mendapat jatah 10 buah buku bacaan untuk beberapa mata pelajaran seperti IPA, Matematika, Bahasa Indonesia, PKN dan beberapa mata pelajaran lainnya. Jumlah tersebut, diakui Moses sangat tidak mencukupi dan tidak sebanding dengan jumlah siswa yang ada. Alhasil, pihak sekolah terpaksa menerapkan sistem belajar kelompok, tiap kelompok beranggotakan 10 orang, mereka belajar kelompok selama semingggu hanya untuk mempelajari isi buku yang dibagikan pihak sekolah. Setelah selesai mempelajari isi buku, maka mereka akan saling menukar buku dengan kelompok lainnya. Sistem ini, kata Moses sangat efektif, karena jika tidak diterapkan demikian maka akan tiimbul kecemburuan antar siswa, yang mana ada siswa kebagian buku bacaan dan sebagian lagi tidak kebagian padahal jumlah buku bacaan hanya 10 buku.

Minimnya bantuan Pemerintah tidak menyulutkan semangat anak – anak di Yiwika untuk terus belajar dan mengembangkan pendidikan di Kampung tersebut. Terbukti, SD YPPK Yiwika saat ini masuk peringkat 8 besar sekolah model di Kabupaten Jayawijaya, salah satu siswa SD YPPK Yiwika, Boni Logo juga mendapat peringkat pertama bagi siswa se-Kabupaten Jayawijaya dan berkesempatan mengikuti kursus di Karawaci. Berkat kepintarannya Boni yang masih duduk di bangku kelas 4, tahun ini berkesempatan mengikuti ujian Nasional dan akan segera masuk ke sekolah Tingkat Menengah Pertama (SMP).

Moses mengaku, pihak sekolah meski minim perhatian Pemerintah namun, mereka tetap berupaya untuk membeikan yang terbaik bagi anak didik mereka. Mereka ingin menunjukan kepada Pemerintah khususnya instansi terkait, kalau SD Yiwika juga merupakan sekolah yang bermutu meski tanpa sentuhan Pemerintah melalui bantuan – bantuan layaknya sekolah lain di Papua.
 “Sebetulnya kita sangat haus akan perhatian Pemerintah, tapi sampai kapan kita harus menunggu terus. Kita juga harus menunjukan kepada Pemerintah kalau kita juga berprestasi tanpa bantuan mereka,” ucap Moses.

Dia bercerita, minimnya perhatian Pemerintah tidak hanya pada penyaluan bantuan semata, melainkan pengawasan ke sekolah. Disaat melaksanakan ujian sekolah atau ujian Nasional, tidak ada satu pun pengawas yang datang untuk melakukan pengawasan ujian, baik pengawas dari  tingat Provinsi maupun tingkat Kabupaten. SD YPPK Yiwika selama ini melakukan ujian sendiri dengan pengawasan guru yang ada di sekolah tersebut.

Tapi lagi-lagi dia menegaskan, kalau pihaknya akan tetap semangat untuk memajukan pendidikan di Kampug Yiwika meski dengan keterbatasan yang ada dan tanpa bantuan Pemerintah seperti yang dialami SD YPPK selama ini.*

Sumber : www.tabloidjubi.com

About Karoba News

Media Online Seputar Ekonomi, Politik, Sosial, Budaya, Pendikan, dan Kesehatan di Tanah PAPUA !
Powered by Blogger.