Berita

AJI Jayapura Klarifikasi Data RSF Tentang Adanya Penculikan Jurnalis di Papua

Ilustrasi
Jayapura”Hingga tahun 2012 kami tidak pernah menerima laporan adanya penculikan terhadap jurnalis di Papua dan tidak pernah pula mempublikasikan adanya laporan penculikan terhadap jurnalis di Papua.”

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Jayapura mengklarifikasi data Reporters sans frontières [RSF] (Reporters  Without Borders), organisasi jurnalis internasional yang berkantor pusat di Paris yang setiap tahun mengeluarkan index kebebasan pers internasional. Data yang dikeluarkan oleh RSF pada wala tahun 2012 itu selain menyebutkan dua jurnalis tewas di Papua hingga tahun 2011 dan 18 diserang (assaulted) juga menyebutkan lima jurnalis diculik di Papua.
“Kami tidak tahu data itu darimana. Yang jelas, kami tidak pernah mendapatkan laporan adanya penculikan terhadap jurnalis dan tidak pernah pula mempublikasikan laporan seperti itu.” kata Victor Mambor, ketua AJI Jayapura saat menyampaikan catatan akhir tahun AJI Kota Jayapura, di Jayapura, Papua, Kamis (27/12).
Mambor merasa perlu mengklarifikasi data tersebut, karena dalam data yang dipublikasikan juga oleh Pacific Media Center tersebut, tercatat AJI Jayapura sebagai organisasi jurnalis yang ada di Papua. Ini dikhawatirkan menimbulkan opini bahwa AJI Jayapuralah yang menerbitkan data adanya lima wartawan yang diculik di Papua.
Pada level internasional, laporan RSF ini berpengaruh besar terhadap turunnya peringkat kemerdekaan pers di Indonesia dari 117 pada tahun 2011 menjadi 146 pada 2012. Selain data mengenai kekerasan terhadap jurnalis tersebut, adanya fakta jurnalis asing yang ingin mengunjungi Papua harus lebih dahulu meminta izin kepada Kementerian Komunikasi dan Informatika serta Kementrian Luar Negeri—yang memerlukan waktu menjadi faktor penting pula dalam turunnya peringkat Indonesia tersebut.Selama 2011 hanya tiga jurnalis asing yang boleh mengunjungi Papua.

Mambor berpandangan, meski kekerasan terhadap jurnalis kerap terjadi, namun sebagai jurnalis kita harus jujur menyampaikan fakta.

“Kami tidak menampik kekerasan terhadap jurnalis di Papua kerap terjadi. Bahkan tahun 2012 ini meningkat jumlahnya. Tapi jangan kita mengada-ada dengan melaporkan yang tidak pernah terjadi. Sebagai jurnalis, kita harus jujur menyampaikan fakta.” ujar Mambor.

Dalam catatan akhir tahun ini, AJI Jayapura memberikan apresiasi pada  Mentri Luar Negeri Indonesia yang secara terbuka memberikan jaminan terhadap akses Jurnalis Asing untuk masuk ke Papua. Menurut Mambor, jaminan ini menjadi sebuah langkah maju di tahun 2012 yang diharapkan bisa diimplementasikan secara konsisten oleh Kementrian Luar Negeri dan institusi terkait lainnya.

“Sebab dalam catatan AJI Jayapura, selama ini telah terjadi penerapan standar ganda terhadap jurnalis asing yang masuk ke Papua. Beberapa jurnalis asing tercatat bisa masuk dan meliput di Papua, namun beberapa lainnya terpaksa tidak bisa masuk Papua karena dilarang atau bahkan dideportasi. Beberapa jurnalis asing juga tercatat memasuki Papua dengan cara menyamar sebagai turis.” terang Mambor.

AJI Jayapura juga mengapresiasi langkah-langkah Kepolisian Daerah Papua dalam upaya penyelesaian kasus kekerasan terhadap jurnalis yang dilakukan oleh Oknum Anggota Kepolisian di Sorong, Manokwari dan Jayapura. Meski demikian, AJI Jayapura tetap berkesimpulan bahwa pihak Kepolisian belum menuntaskan beberapa kasus kekerasan terhadap Jurnalis di Papua dan Papua Barat yang terjadi hingga tahun 2012.

“Kedepannya, AJI Jayapura berharap bisa terjalin kerjasama antara pihak Jurnalis dan pihak Kepolisian Papua dalam upaya penanganan kasus-kasus kekerasan terhadap jurnalis di Papua dan Papua Barat.” kata Mambor. (Jubi/Timo Marthen)

About Karoba News

Media Online Seputar Ekonomi, Politik, Sosial, Budaya, Pendikan, dan Kesehatan di Tanah PAPUA !
Powered by Blogger.