Berita

Puskesmas Pembantu Jarang Dibuka



AJI Papua
Tim Penulis : Paskalis Keagop, Katarina Lita dan Lala
Kampung Yanggandur memiliki sebuah Puskesmas Pembantu, tapi jarang dibuka. Obat-obatan untuk masyarakat dititipkan ke Pos Batalyon Yonif 142/ Ksatrian Jaya untuk melayani warga kampung yang sakit.
Walau Kampung Yanggandur Distrik Sota Kabupaten Merauke memiliki sebuah Pusat Kesehatan Masyarakat Pembantu (Pustu), namun tidak pernah dibuka. Petugas kesehatan yang ditugaskan di kampung itu pun tidak pernah di tempat. “Walau cuma dibuka sekali dalam sebulan saja tidak pernah”, kata Letkol Infantri Rudy Purwoto.
Dinas Kesehatan Merauke kurang memberikan perhatian kepada masyarakat Kampung Yanggandur. Ada Pustu tidak pernah dibuka, tidak ada petugas medis, obat ada tapi dititipkan ke Pos TNI. Akhirnya, setiap hari kalau ada masyarakat kampung yang sakit, mereka berobat ke Pos Batalyon Unif 142/Ksatria Jaya. Mereka tidak bisa berobat ke Puskesmas Sota karena jauh, kondisi jalan rusak berat dan tidak ada kendaraan. Keadaan ini membuat, masyarakat tergantung pada pengobatan alam atau pelayanan kesehatan dari anggota TNI Batalyon 142/Ksatria Jaya yang bertugas di Yanggandur.
Komandan Batalyon 142/Ksatria Jaya, Letnan Kolonel Infantri Rudy Purwoto, saat ditemui Tim Peneliti Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Jayapura di posnya, Senin 20 Februari 2012 lalu mengatakan selama ini kita tidak hanya bertugas menjaga wilayah perbatasan, tetapi juga bertugas melayani masyarakat di sekitar kita, terutama membantu mengajar di sekolah dan melayani kesehatan masyarakat secara suka rela.
“Kita berusaha membuat jadwal pengobatan massal, terutama pos-pos yang ada masyarakatnya. Walau sudah ada jadwal, tapi pelayanannya tidak berpatokan pada jadwal. Kita fleksibel pada masyarakat, mana yang siap kita berobat di situ”, jelas Letkol Rudy.

Seperti hari itu, Senin 20 Februari 2012 lalu, mereka memberikan pengobatan massal bagi masyarakat Kampung Torey dan keesokan harinya, Selasa 21 Februari di Kampung Yanggandur, Distrik Sota Kabupaten Merauke, karena dua kampung itu yang siap. Batalyon 142/Ksatria Jaya menganggap pengobatan massal bagi masyarakat sudah menjadi tugas rutin, yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dan ketersediaan obat. Setiap ada pengobatan massal dari Pos 142/Ksatria Jaya, mereka selalu berkoordinasi dengan dinas kesehatan setempat, karena “obat dan tenaga kita sangat terbatas hanya untuk kebutuhan anggota. Dalam pelaksanaan dinas setempat biasa mendukung”, jelas Danton 142/Ksatria Jaya, Letkol Inf Rudy Purwoto.
Selain pengobatan massal yang sifatnya temporer, anggota TNI juga melaksanakan koordinasi dengan dinas kesehatan untuk kampung yang selama ini terjadi hambatan kesehatan. Di hampir sebagian besar kampung di wilayah Distrik Sota, memiliki Pustu, tapi fasilitas dan tenaga medisnya tidak ada dan tidak efektif dalam memberi pelayanan kesehatan bagi warga kampung.

“Kalau mungkin perlu tenaga dokter, kami bantu, termasuk evakuasi mendadak bagi pasien yang gawat, kami akan menolong. Soal kendaraan, kita ada ambulance khusus untuk anggota Satgas 142 yang sakit, tapi kalau ada masyarakat yang membutuhkan kita akan bantu.” ujar Letkol Purwoto.

Sejak bertugas hingga kini, Pos 142/Ksatria Jaya kerap berkoordinasi dengan dinas kesehatan agar obat untuk Pustu bisa dititipkan di pos agar bisa digunakan melayani warga. Karena selama ini jatah obat bagi anggota jumlahnya terbatas, dan itu yang digunakan melayani masyarakat. Sehingga, kalau stok obat anggota itu habis, maka obat dari dinas kesehatan itu yang bisa digunakan.

“Dalam pelayanan, kami dibantu dua mantri, pendidikannya jurusan kesehatan dan sudah ikut kursus sekolah, bagian kesehatan sekira empat bulan, dan ada juga anggota baru yang disekolahkan. Saya koordinasi dengan mereka dua. Kami tidak kewalahan tangani penyakit masyarakat”, jelas Sersan Satu TNI Yudi, Mantri di Pos 142/Ksatria Jaya Yanggandur.

Kendala yang kerap dialami mantri tentara, Sertu Yudi dan kawan-kawannya dalam melayani masyarakat adalah ada anak kecil atau orang dewasa yang sakit parah, tapi terlambat lapor dan butuh pertolongan cepat di saat stok obat habis dan tidak ada kendaraan operasional di pos. Keadaan seperti ini cukup merepotkan.
“Pernah ada satu kasus, ada seorang anak yang datang ke pos dalam keadaan step, sebab dia terlambat lapor, semampu kami bantu. Saat kami minta obat, biasanya disertai dokumen pasien yang berobat ke pos, sehingga pertanggungjawaban jelas”, kata Sertu Yudi.

Selama ini masyarakat lebih senang minum obat dari pos, karena dianggap akan lebih cepat sembuh ketimbang obat dari Puskesmas.
“Padahal, kita di pos juga pakai obat generik, cuma dosisnya saja yang tinggi. Hanya sugesti masyarakat saja yang begitu, dan ini pun karena Pustu tidak pernah dibuka”.

Masyarakat Kampung Yanggandur, lebih banyak menderita sakit batuk-batuk, sakit perut, pilek, muntaber, ISPA, dan gatal-gatal alergi. Kebutuhan obat bagi masyarakat juga seputar sakit itu. Pelayanan kesehatan di pos tentara tidak diberikan setiap hari, namun dalam sepekan ada dua sampai lima orang yang datang berobat di pos.

“Malaria di daerah ini kurang. Lebih dari tiga bulan kami berjaga di sini, baru ada dua kasus malaria dan itu juga masih gejala. Masyarakat lebih percaya obat dari Satgas, karena dosis obat kami lebih tinggi dari dinas kesehatan. Pemakaian obat dari dinas, jika dikasih tidak respon lagi baru dikasih obat dari pos, ini membuat terjadi ketergantungan obat dari pos”, jelas Prada Agung Pribadi, Mantri di Pos 142/Ksatria Jaya.

Penyakit yang diderita anak-anak di Kampung Yanggandur lebih banyak diare dan muntaber. Penyebabnya antara lain makanan kurang higienis dan tidak steril. Sakit paru-paru dan sesak nafas juga banyak ditemukan di sini. Salah satu penyebabnya, warga kecanduan untuk merokok lampion, yang langsung diisap tanpa menggunakan filter. Warga juga kerap campur rokok makan dengan pinang, “ dan itu bisa berbahaya. Hanya orang lokal mungkin sudah kecanduan. Istilah kedokterannya, paru-paru. Bisa ke TBC.” ujar Prada Pribadi.
Ada kasus yang juga sampai membutuhkan pertolongan keluar adalah kebanyakan penyakit yang menyerang bayi di bawah lima tahun (Balita). Rata-rata kasusnya adalah diare, terlambat lapor, misalnya lama sakitnya sudah mingguan dan kadang masyarakat percaya pada dukun.
Di Kampung Yanggandur juga masih ditemukan kasus gizi buruk menimpa anak-anak. Potensi alam cukup tersedia. “Namun warga kelihatannya kurang senang dengan makanan lokal. Misalnya, banyak warga atau anak-anak menukarkan hasil tangkapan ikan atau daging dengan supermi di pos jaga. Masyarakat lebih suka TB atau supermi”, kata Prada Agung Pribadi, Mantri Tentara yang sehari-hari bertugas melayani masyarakat dan anggota TNI di Pos 142/Ksatria Jaya.
Prada Agung Pribadi mengisahkan, sejak awal bertugas di Yanggandur, teman-temannya banyak yang sakit pada awal bulan untuk adaptasi dengan lingkungan baru. Lebih banyak mereka menderita gatal-gatal alergi, dan demam. Setelah itu normal. Nyamuk banyak dan kami tidur pakai kelambu. Kami dibekali kelambu, dan obat nyamuk oles. Kalau ada masyarakat yang sakit, kami hanya memberikan pertolongan semacam P3K, pertolongan cepat. Jika warga melaporkan penyakitnya cepat, maka kami juga sebisa mungkin membantu dengan cepat. Kalau belum bisa sembuh, kita evakuasi ke Puskesmas Sota.

“Ambulance akan datang jika ada permintaan. Anak yang step itu berumur sekitar lima tahun, dan dibawa ke kota di Puskesmas. Kami biasa disebut pa man atau kepanjangan dari pa mantri. Kadang lagi kumpul, yang kami tekankan adalah kalau ada anak sakit, jangan sampai terlambat melapor untuk pertolongan supaya tidak terlambat. Kebetulan ada orang kesehatan dari Sota, padahal tidak melapor. Kalau Pustu sebulan sekali belum tentu buka. Kami tidak tahu apa permasalahannya. Si anak namanya Fransiska, tak bisa diselamatkan sudah di Puskesmas Sota. Dia akhirnya meninggal di tengah pada 15 Februari 2012”,  jelas Prada Agung Pribadi yang berperan melayani masyarakat kampung-kampung yang ada di Distrik Sota Kabupaten Merauke.

“Pengalaman, suatu hari, kami dibangunkan tengah malam, kejadiannya pada anak-anak. Ada anak yang sakit menderita muntaber selama tujuh hari. Mereka datang lapor tengah malam, dan kami tidak bisa bikin apa-apa. Tapi saat itu juga, kami langsung evakuasi ke Sota, tapi di tengah jalan meninggal. Jarak dari Yanggandur ke Sota 20 kilometer. Tidak ada kendaraan operasional di pos”.
Saat pengobatan massal, anggota tentara yang bertugas di wilayah perbatasan dua negara: RI – PNG di Selatan Papua ini tidak hanya mengobati dan memberikan obat, kesempatan itu juga digunakan memberikan penyuluhan mengenai pola hidup sehat. Karena mayoritas masyarakat di kampung-kampung mengkonsumsi air mentah. Pola hidup warga yang kurang sehat ini membuat masyarakat lebih banyak menderita berbagai jenis penyakit. Seperti diare, muntah-berak, gatalgatal alergi, par-paru/TBC dan infeksi saluran pernafasan atau ISPA.
Nasehat mengenai pola hidup sehat, tidak hanya disampaikan saat pengobatan massal, tapi setiap ada kesempatan, anggota tentara ini juga selalu menyampaikan hal yang sama agar masyarakat tidak mudah terserang penyakit. Seperti yang selalu dilakukan Praka Jambari, Guru Walikelas 3 SD YPPK Fransiscus Xaverius Yanggandur.

“Saya juga sering menyarankan anak murid agar menjaga kesehatan. Kesehatan adalah yang paling utama. Bapak juga menghimbau kalian jangan sekali-kali minum mentah air sumur, itu tidak baik. Karena nanti di dalam perut kalian itu terjadi kontraksi, menimbulkan diare, mencret. Kalau kalian sakit datang ke pos. Kalau ditanya alasannya apa? Sakit perut karena minum air sumur. Kalau haus di sekolah, silakan minta airminum di pos, tidak ada yang melarang”.  Hal-hal semacam ini yang kerap disampaikan Praka TNI Jambari kepada anak-anak muridnya di kelas.

Komandan Pos 142/Ksatria Jaya, Lettu Inf Husnen E. F., mengatakan jauh sebelum melakukan pengobatan massal di kampung-kampung, selalu hubungi dinas kesehatan, tapi kadang tidak respon. Kalaupun direspon, datangnya tidak tepat waktu. Sehingga, waktu menunggu itu digunakan untuk mengajar di sekolah sembari menunggu petugas kesehatan datang dari Puskesmas Sota. Kadang tidak ada dokter, hanya dokter kita yang layani.
Seperti rencana pengobatan massal pada Selasa 21 Februari 2012 lalu, dokter yang sudah nyatakan siap dari pos, sedangkan dari dinas kesehatan belum ada kabar. “Kita sudah voice dua hari lalu, tapi tidak ada tanggapan. Biasanya kita undang mereka hadir, tapi lambat. Sehingga, waktu vakum dipakai untuk mengajar di kelas menunggu mereka datang. Selama kita di kampung ini, masyarakat semua lari berobat ke pos. Pos ini dianggap rumah sakitlah. Kita bisa bantu saja tenaga medis, tapi untuk obat-obatan kami terbatas, bantu sebatas kemampuan kita”, ujar Komandan Pos 142/ Ksatria Jaya, Lettu Inf Husnen E. F.
Pelayanan kesehatan selama ini, Pos TNI 142/Ksatria lebih banyak menggunakan obat pribadi untuk anggota, tapi tidak pernah minta ganti obat ke Dinas Kesehatan Merauke. Mereka biasa koordinasi hanya untuk meminta kesiapan tenaga medis memberikan pelayanan saat pengobatan massal.

“Tapi dalam kerangka membantu proses pengobatan masyarakat, tidak mungkin kita hanya mengandalkan stok obat dari kita, sehingga perlu bantuan dari dinas kesehatan. Kami selalu lampirkan nama pasien, jenis kelamin, penyakit, jenis obat yang diberikan, umur, kita akan lampirkan dan serahkan baru obat-obatan itu kita terima”, ujar Lettu Inf Husnen.

Lettu Inf Husnen mengatakan mantri tentara di Pos 142/Ksatria Jaya juga memiliki buku catatan riwayat kesehatan. Ini sesuai dengan jenis obat yang sering diminta. Catatan riwayat sakit ini untuk memudahkan petugas untuk mengetahui sakit yang diderita pasien. Tidak bisa kasih obat sembarangan ke masyarakat.
“Di sini katanya, endemik malaria, tapi ga juga. Kadang flu, diare, ISPA dua orang. Tenaga kesehatan di Pos kita ada, mantri. Dia dari tamtama tapi sekolah perawat, cabangnya kesehatan. Kebetulan Wadanpos orang kesehatan juga, makanya kita serahkan ke Prada Agung, yang mengolah, dan selama ini pengobatan baik saja. Saya juga sudah laporkan keadaan mengenai masalah kesehatan masyarakat kepada pimpinan, dan tidak ada masalah, lanjutkan saja.” katanya,”.*



About Karoba News

Media Online Seputar Ekonomi, Politik, Sosial, Budaya, Pendikan, dan Kesehatan di Tanah PAPUA !
Powered by Blogger.