Bencana

Longsor di Langda, Kabupaten Yahukimo, 660 KK jadi korban



Jayapura — Lebih dari 6000 penduduk menjadi korban tanah longsor di Distrik Langda, Kabupaten Yahukimo. Namun pemerintah daerah masih belum bertindak.
Akibat hujan yang turun selama beberapa hari, 9 kampung di distrik Langda, kabupaten Yahukimo mengalami bencana longsor. 9 kampung tersebut adalah Wasumuryi, Langda, Yalar, Laryi, Kerabuk, Kabkab, Aliryi, Bebekle dan Lukun.
Sumber tabloidjubi.com di Langda menyebutkan bencana longsor terjadi pada tanggal 13-15 November. Akibat hujan yang turun terus menerus, dua kali di kampung Wasumuryi meluap. Luapan air di kali Bata bertemu dengan luapan air di kali Nongme. Air luapan kedua kali menyebabkan longsor Gunung Kwiryamanyi sekaligus menghanyutkan 87 lahan kebun milik masyarakat kampung Wasumuryi. Masyarakat memang bercocok tanam Di sepanjang kali Nongme, karena tanahnya yang subur. Longsor ini melenyapkan ubi, keladi, sayur mayur, labu siam, buah merah, tebu dan pisang.

Banjir dan longsor di kali Nongme, mengakibatkan kali Nongme tertutup tanah longsor (Dok. Yakpesmi)
“Jembatan Nongme putus. Selama satu minggu aktifitas masyarakat yang tinggal di Kwasok tidak keluar tinggal di rumah saja.” kata Izak Kipka, kordinator Yayasan Kristen Pelayanan Sosial Masyarakat Indonesia (Yakpesmi) di Wamena, saat di konfirmasi tabloidjubi.com, Jumat, 23/11.
Izak Kipka mengatakan pada tanggal 14 November 2012, Pdt. Ayub Balyo (Ketua klasis Langda), Simson Nabyal (Kepala Kampung Langda), Meky Weyato dan (Kepala Puskesmas Langda)  melaporkan bencana longsos ini kepada pemerintah daerah kabupaten Yahukimo. Namun pemerintah daerah meminta mereka untuk menunjukkan foto longsor dan data yang mendukung laporan mereka itu. Kemudian. Tanggal 15 November 2012, Pdt. Ayub Balyo dan Simson Nabyal melaporkan musibah longsor ini kepada gereja melalui SSB di Wamena. Keduanya meminta bantuan dari Gereja dan Yayasan Yakpesmi untuk datang ke Langda melihat lokasi longsor dan mengumpulkan data lapangan. Tanggal 16 November 2012, pihak gereja mengutus tim Yakpesmi ke Langda menggunakan pesawat milik MAF.

Banjir menyebabkan kebun masyarakat di lereng bukit rusak berat (Dok. Yakpesmi)
“Masyarakat lainnya, yang bermukim di kampung Yape telah mengungsi ke Langda dan tinggal dengan keluarga selama 5 hari. Anak-anak tidak ke sekolah, masyarakat yang tinggal di Yape tidak bisa ke kebun. Jemaat tidak beribadah.” kata Izak menjelaskan situasi masyarakat di Langda, paska longsor.
Pdt Ayub Balyo, saat dihubungi via SSB, menjelaskan bahwa kebun masyarakat sudah hancur sehingga kemungkinan 6 bulan ke depan masyarakat akan mengalami kekurangan makanan.
“Kalau masyarakat kerja kebun lagi dan tunggu hasil, membutuhkan waktu lama. Karena itu mohon bantuan bahan makanan dan bibit tanaman lokal dari pemerintah daerah dan provinsi.” kata Ayub Balyo.
Lanjut Ayub, kondisi hujan di seluruh Distrik Langda sejak tanggal 18 mulai membaik. Masyarakat yang mengungsi sudah kembali ke kampung Yape namun mereka kekurangan bahan makanan.
Ayub juga mengatakan longsor dan banjir bukan cuma di kampung Wasumuryi saja.

Banjir membuat kebun masyarakat hanyut (Dok. Yakpesmi)
“Waktu yang sama terjadi longsor dan banjir di 8 kampung distrik Langda. Beberapa bulan lalu juga terjadi longsor namun masyarakat pasrah. Tim dari gereja akan memberikan data kepada pemerintah daerah agar pemerintah melihat dan membantu masyarakat di 9 kampung, Distrik Langda.” ujar Ayub Balyo.
Ayub berharap, pemerintah cepat mengambil tindakan. Bantuan bahan makanan untuk 6 bulan ke depan sangat dibutuhkan. Juga bibit tanaman local untuk membuka lahan baru dan bibit dan tanaman jangka panjang untuk mengurangi resiko longsor di waktu mendatang.(Jubi/Victor Mambor)




Sumber : www.abloidjubi.com

About Karoba News

Media Online Seputar Ekonomi, Politik, Sosial, Budaya, Pendikan, dan Kesehatan di Tanah PAPUA !
Powered by Blogger.