Sempat Dilarang Beredar, Buku Pemusnahan Etnis Melanesia Diluncurkan Kembali

12:52:00 PM

Socratez S Yoman pengarang buku
JAYAPURA - Setelah sempat dilarang oleh pemerintah untuk diedarkan, buku karya Socratez S Yoman, yang berjudul “Pemusnahan Etnis Melanesia, Memecah Kebisuan Sejarah Kekerasan di Papua Barat”, beredar lagi. Hal itu setelah dilounching di Universitas Kristen Indonesia di Jakarta, 14 September.

“Buku ini terbit Tahun 2007 tapi dilarang oleh Kejaksaan Agung dengan alasan mengganggu ketertiban umum. Itu kan alasan klasik, tidak mau boroknya diketahui orang,” ungkap Socratez  kepada Bintang Papua di Kediamannya yang beralamat di Itha Wakhu Purom, Padang Bulan, Senin (17/9).

Dalam peluncuran tersebut, menurutnya dihadiri orang-orang terpandang sebagai pembedah buku, seperti Dr. Rizal Ramli, Prof. Dr. Thamrin Tomagola, Dr.  Adriana Elisabeth, Ibu Pungki, Yorrys Raweyai, Fritz Kihirio.  “Mereka sependapat. Tidak ada mereka bantah. Karena buku ini diperkuat data-data dan fakta-fakta yang kuat,” jelasnya.

Buku karyanya tersebut, menurutnya merupakan potret dan rekaman pengalaman hari-hari rakyat Papua, yang ditulisnya sebagai rasa tanggungjawab moril untuk menyampaikan terhadap orang lain yang mempunyai kepedulian.

Jelasnya, yakni berusaha membangun solidaritas, bagaimana meminimalisir, atau sedapat-dapatnya mengurangi kegelisahan atau penderitaan umat di tanah ini, terutama orang Papua sebagai tuan di negeri ini. “Saya sebagai gembala melihat peristiwa kekerasan penindasan terutama yang dilakukan Negara. Jadi buku ini ditulis dalam spririt itu, dalam pergumulan perjuangan kemanusiaan,” jelasnya.

Ia berharap, buku tersebut sebagai bagian dari koreksi terhadap kebijakan-kebijakan Negara yang diterapkan di Tanah Papua.

“Saya tidak bicara etnis tapi saya bicara kemanusiaan. Jadi manusia itu tidak boleh direndahkan dengan alasan apapun. Baik itu alasan NKRI, atau apapun tidak boleh. Martabat manusia harus dihargai,” tegasnya.
Dikatakan, Tahun 2007, buku tersebut sudah dicetak dan beredar 5000 buku di seluruh Indonesia, tapi ditarik oleh pihak kejaksaan.

“Setelah kami tunggu, sekarang ini saatnya dan kami cetak 3000 buku, dan di Jakarta 1500 sudah beredar, dan yang ada pada saya 1500 dan sudah mulai beredar di toko-toko buku, seperti di Gramedia, dan beberapa toko lain,” ungkapnya.

Keberaniannya mengedarkan kembali buku tersebut, menurutnya karena kebebasan berekspresi yang dijamin undang-undang, dan Pemerintah Indonesia sudah mulai terbuka.

“Jadi tidak ada lasan untuk larang. Dan Indonesia sudah mulai terbuka, walaupun demokrasinya tidak jalan baik,” ujarnya.

Share this

Media Online Seputar Ekonomi, Politik, Sosial, Budaya, Pendikan, dan Kesehatan di Tanah PAPUA !

Related Posts

Previous
Next Post »