search tickets in here

Pengacara Diintimidasi, Kapolres Jayawijaya Akan Dilaporkan Ke Propam dan Kapolda


AKBP Alfian dan Olga Hamadi
Jayapura -- Pengacara HAM Papua, Olga Hamadi, menurut laporan Amnesty International yang diterima tabloidjubi.com, Selasa (25/9) terancam setelah menyelidiki tuduhan penyiksaan dan penganiayaan oleh polisi di Wamena, Provinsi Papua, Indonesia. Olga di khawatirkan berada pada risiko intimidasi lebih lanjut.

Tanggal 23 Agustus 2012 Olga Hamadi menerima informasi bahwa Polisi dari Kabupaten Jayawijaya telah menampar, memukul dan menendang lima orang warga (salah satunya diduga dibawah umur untuk ditahan) yang dituduh melakukan pembunuhan yang terjadi pada tanggal 14 Agustus 2012 di Wamena dalam upaya untuk memaksa mereka untuk mengakui keterlibatan mereka dalam pembunuhan tersebut. Olga kemudian pergi ke Wamena untuk untuk menyelidiki tuduhan tersebut dan mengajukan permohonan untuk sidang pra-peradilan karena kekhawatiran tentang dugaan pelanggaran oleh polisi. Namun pada 14 September 2012 Olga menerima telepon dari salah satu penyidik polisi yang menginterogasi para tertuduh. Polisi tersebut marah tentang materi pra-sidang yang diserahkan Olga dan mengatakan dia tidak bisa menjamin keselamatannya di Wamena. Selanjutnya, Olga Hamadi diberitahu oleh sumber-sumber lokal bahwa telah beredar pesan singkat (sms) sebelum pra-sidang yang disebarkan kepada keluarga korban pembunuhan dan masyarakat setempat yang menyatakan bahwa ia (Olga Hamadi) telah mengganggu dengan kasus tersebut dan ingin menghentikan proses hukum.

Puncaknya, pada pagi hari tanggal 19 September 2012, hari ketiga sidang pra-peradilan, Olga Hamadi diblokir saat akan memasuki Pengadilan Negeri Wamena oleh kerumunan orang, termasuk anggota keluarga korban. Mereka mengancam akan memukulinya dan memaksanya untuk menarik materi pra-sidang. Dia kemudian dibawa ke kantor polisi Kabupaten Jayawijaya oleh polisi. Ketika dia ingin kembali ke pengadilan, ia kembali terhalang oleh kerumunan orang di luar kantor polisi. Namun polisi tidak mengambil langkah apapun untuk membantunya. Pada tanggal 20 September 2012, karena kekhawatiran keselamatan dirinya dan kurangnya perlindungan dari pemerintah, ia mencabut materi pra-sidang dan kembali ke Jayapura.

Gustaf Kawer, salah satu pengacara HAM Papua membenarkan kejadian tersebut. Ia menduga bahwa masyarakat yang melakukan intimidasi tersebut diprovokasi oleh oknum Kepolisian di Polres Jayawijaya dengan cara membocorkan materi pra peradilan kepada keluarga korban pembunuhan.
"Kalau materi pra-peradilan bisa bocor kepada masyarakat, hanya ada dua yang mungkin membocorkan materi tersebut. Pengacara atau polisi sendiri." kata Gustaf Kawer. Namun melihat bahwa pengacara terintimidasi oleh masyarakat dan keluarga korban yang memaksa mencabut materi pra peradilan itu, sangat kuat dugaan jika pihak Kepolisian lah yang membocorkan materi pra peradilan tersebut kepada keluarga korban.

Kapolres Jayawijaya, AKBP. Alfian, saat di konfirmasi oleh tabloidjubi.com mengenai intimidasi yang dilakukan oleh salah satu penyidik di Kepolisian Resort Jayawijaya serta warga masyarakat terhadap Olga Hamadi, mengatakan bahwa itu tidak benar.
"Yah, siapa saja bisa membuat laporan. Silahkan saja. Tapi saya mau bicara apa? Ngga ada itu. Tidak benar." sebut Kapolresta Jayawijaya menanggapi pertanyaan tabloidjubi.com mengenai laporan Amnesty Internasional tentang peristiwa intimidasi tersebut, sambil menegaskan bahwa kelima warga yang dituduh sebagai pelaku pembunuhan tetap ditahan oleh Polres Jayawijaya.

Namun Gustaf Kawer beranggapan lain. Ia membenarkan bahwa peristiwa intimidasi tersebut benar terjadi sehingga menyebabkan Olga Hamadi terpaksa menarik materi pra sidangnya.
"Jika itu tidak benar. Kenapa ada masyarakat yang saat itu mengintimidasi Olga di Pengadilan Wamena saat pra peradilan? Mengapa polisi diam saja? Seharusnya, polisi bertindak saat itu. Itu dua hal yang berbeda. Satunya Pra peradilan untuk penahanan lima warga dan ada peristiwa intimidasi oleh warga kepada pengacara." ujar Gustaf.

Atas intimidasi terhadap pengacara ini, para pengacara HAM Papua akan melaporkan tindakan Kapolres Jayawijaya yang dianggap membiarkan terjadinya intimidasi saat sidang pra peradilan dan diduga ikut memprovokasi warga untuk memaksa pengacara mencabut materi pra peradilan.

"Saat ini teman-teman sedang menyusun laporan dan kronologis intimidasi tersebut. Kami akan laporkan itu kepada Propam Polda Papua dan Kapolda Papua." ujar Gustaf Kawer.

Post a Comment