Adat

Ketua Dewan Adat Paniai : Stop Tambah Pasukan Di Paniai


Enarotali  --- Ketua Dewan Adat Daerah Paniai, John NR Gobai, SE, menegaskan bahwa jangan ada penambahan pasukan keamanan lagi di Kabupaten Paniai, merupakan seruan masyarakat selama ini mengingat penugasan kesatuan tertentu justru tidak jelas keberadaannya di daerah ini.

“Pasukan yang ada saja bikin takut masyarakat sini, apalagi kalau ada tambah dari luar lagi. Itu tidak akan selesaikan masalah,” ujarnya pada pertemuan dengan DPRP, Muspida bersama seluruh komponen masyarakat Paniai, Senin (3/9) di Gedung Serbaguna Uwatawogi Enarotali.

“Perlu diketahui bahwa orang Paniai ini dari sejak puluhan tahun lalu, selama DOM (daerah operasi militer) diberlakukan, banyak kejadian-kejadian tragis. Saksi hidup masih ada banyak. Pengalaman-pengalaman itu membuat orang trauma berkepanjangan. Jadi, wajar saja kalau rakyat takut jika ada kejadian-kejadian seperti kemarin, jangan tembakan atau korban, dengar isu saja sudah pada takut,” tuturnya menceritakan fakta.

Entah ada penambahan pasukan ataupun tidak, diharapkan agar penyelesaian persoalan terhadap kejadian penembakan dan pembacokan yang terjadi baru-baru ini harus dengan pendekatan persuasif. Lakukan langkah-langkah terbaik tanpa menimbulkan persoalan baru. Bangun komunikasi dan dialog dengan pihak-pihak terkait. “Pengalaman tahun lalu menjadi pelajaran untuk hari ini. Tambah pasukan dari Kelapa II dan lain-lain pada akhirnya menimbulkan banyak masalah,” tandasnya.

Pernyataan sama dilontarkan Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama dan Tokoh Pemuda di Kabupaten Paniai, sebab alasannya bahwa penambahan pasukan sebagaimana disampakan Polri dan Polda Papua baru-baru ini justru akan menambah rumit dalam proses penyelesaiannya. Termasuk dampaknya bagi warga sipil di kampung-kampung.

Ketua DPRD Kabupaten Paniai, Markus Keiya, S.Pd maupun anggota DPRP pun meminta hal itu tidak diberlakukan, karena misalnya ada penambahan pasukan dan terjadi penyisiran besar-besaran, tentu saja dampaknya akan dirasakan oleh warga sipil yang benar-benar tak ada sangkut paut dengan persoalan sebenarnya sebagaimana pengalaman tahun lalu saat pengejaran terhadap John Magai Yogi dan kelompoknya pasca perampasan dua pucuk senjata di Polsek Komopa berlanjut hingga pendudukan markas mereka di Eduda.

Penjabat Bupati Kabupaten Paniai, Drs. Fifi Adji Gatotkotjo mengakui sebenarnya pendekatan ke kelompoknya John sudah dilakukan seperti halnya sama ayahnya, Thadeus Yogi saat masih hidup. Hanya saja, dengan John belum berhasil. “Pendekatan kemanusiaan sebagai saudara dan rakyat saya, sebenarnya paling jitu sebagai solusinya buat John. Cuma ya masih belum berhasil, tapi kita akan terus berupaya membangun komunikasi dengan Muspida dan semua tokoh untuk solusi-solusi terbaik ke depan,” tuturnya.

Inipun diakui Kapolres Paniai, AKBP Antonius Diance, SH, yang memang mengenal baik John Magai Yogi karena saat menjabat sebagai Kapolres Persiapan Paniai beberapa tahun lalu sudah tiga kali  bertandang ke Eduda setelah beberapa kali berkomunikasi melalui telepon seluler dengan Thadeus Yogi.

“Adik John sering telpon saya, bahkan ada nada ancaman juga. Tapi saya ingatkan dia kalau kekerasan dan lain-lain itu tidak baik. Kita sebagai umat beragama, kebetulan saya Katolik seperti halnya John, bahwa membunuh dan tindakan lain itu dilarang oleh Tuhan. Ya, tapi dia masih bersikeras,” kata Kapolres Paniai. 

About Karoba News

Media Online Seputar Ekonomi, Politik, Sosial, Budaya, Pendikan, dan Kesehatan di Tanah PAPUA !
Powered by Blogger.