Berita

Pasca Penembakan Kades, Puluhan Warga Saweotami Papua Mengungsi ke Hutan


KRBNews, Jakarta - Pasca penembakan Kepala Kampung Saweotami, Johanes Yanafrom 1 juli lalu, puluhan kepala keluarga dari desa tersebut mengungsi ke hutan dekat perbatasan Papua New Guinea. Tidak hanya orang dewasa yang mengungsi, anak-anak juga ikut mengungsi. Akibatnya dari mereka terserang penyakit.

Tangisan anak kecil terdengar di balik telepon ketika detikcom berbincang dengan seorang warga Saweotami, Railbois (43), yang menjadi pengungsi setelah terjadi baku tembak antara kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM) pimpinan Lambertus Peukikir awal Juli lalu, atau bertepatan dengan hari jadi Papua Barat.

"Kami takut dikira OPM oleh aparat. Mereka datang memeriksa rumah kami satu persatu dengan laras panjang," kata Railbois, Selasa (10/7/2012).

Pemeriksaan tidak berlangsung sekali saja. Dalam sehari, kata Railbois, aparat TNI/Polri melakukan pemeriksaan dua kali. "Pagi mereka periksa kami punya rumah, sore mereka datang lagi," kisahnya.

Dia mengungsi bersama istri dan dua orang anaknya yang baru berusia di bawah 10 tahun. Selama tinggal di hutan, tidak ada perlengkapan dan logistik apapun yang mereka siapkan. Railbois bersama 30-an kepala keluarga dari desa yang sama, tinggal di rumah tenda seadanya yang dibuat dari daun-daunan.

"Kalau yang sempat bawa tenda mereka tinggal di tenda, tapi rata-rata banyak yang tidak bawa tenda," ujarnya.

Soal makanan dan minuman, para pengungsi mengandalkan tumbuhan yang mereka jumpai di hutan. "Kita makan buah-buahan dan sagu hutan," kata Railbois.

Railbois mengkhawatirkan nasib anak-anak yang ikut dalam rombongan pengungsian. Menurutnya, anak-anak tersebut mulai teserang penyakit, mulai dari gatal-gatal, muntaber, sampai dengan malaria. "Tidak ada obat-obatan yang dibawa," tuturnya.

Pengungsi lainnya, Apolnya Tekam (42), menceritakan kondisi serupa yang dialaminya. Dia mengungsi bersama tiga orang anaknya ke hutan di dekat perbatasan Papua New Guinea. Sementara sang suami terpisah dari rombongan pengungsi yang saat itu masuk ke dalam hutan.

"Suami terpencar, mamak sekarang tinggal dengan tiga anak mama yang ikut mengungsi," kata Apolnya terdengar terisak-isak.

Akibat mengungsi ke hutan, anak nomor dua yang berusia sembilan tahun harus rela meningalkan bangku sekolahnya. "Mama menyesal anak-anak tidak bisa sekolah karena ikut mengungsi," katanya.

Martinus (20), seorang pemuda yang ikut mengungsi mengatakan hidup di hutan selama pengungsian bak mimpi buruk. Hal itu karena kondisi hujan yang terus turun di sekitar hutan, sementara mereka tidak memiliki tempat bernaung yang memadai.

"Kehidupan di hutan sangat buruk, banyak lintah dan nyamuk. Kami kebanyakan kena malaria," tutur Martinus.

Setiap malam, kata Martinus, kaum pria silih berganti menjaga para perempuan dan anak yang tengah beristirahat. Itu dilakukan untuk menjaga para pengungsi dari sergapan hewan buas yang hidup di sekitar hutan yang ditempati.

Dalam kesempatan terpisah, Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Polri, Kombes Boy Rafli Amar mengatakan kegiatan yang dilakukan pihaknya dan TNI adalah dalam rangka memberikan rasa aman kepada masyarakat yang ada di Papua. Segala konflik yang ada di Papua, imbuh Boy, dilakukan dengan jalan dialog yang melibatkan tokoh-tokoh adat dan keagamaan di sana.

"Upaya komunikasi dengan tokoh-tokoh masyarakat di sana terus dilakukan," jelas Boy, Senin (9/7/2012).

Dihubungi terpisah, Direktur Kriminal Umum (Dirkrimum) Polda Papua, Kombes Wachyono, kepada wartawan mengatakan tidak ada penyisiran seperti yang dituding pimpinan OPM Lambertus Peukikir.

"Penyisiran tidak ada, yang ada kami mengejar pelaku penembakan terhadap masyarakat dan aparat yang mereka lakukan pada awal bulan ini," kata Wahyono kepada wartawan.

Sumber : detik.com

About Karoba News

Media Online Seputar Ekonomi, Politik, Sosial, Budaya, Pendikan, dan Kesehatan di Tanah PAPUA !
Powered by Blogger.