search tickets in here

PGBP : "Militer Indonesia Lakukan Pembohongan Publik Terkait Penembakan Mako Tabuni"

Ketua umum PGBP, Socratez Sofyan Yoman (kanan) bersama Pdt. Benny Giay 
KRBNews, Jayapura, (24/06) -- Dalam bulan Mei-Juni 2012, di Tanah Papua pada umumnya, dan lebih khusus di ibu kota Provinsi Papua telah terjadi kekerasan dan kejahatan terhadap kemanusiaan.  Kekerasan dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukan oleh OTK dan aparat keamanan sendiri, telah memperlihatkan wajah kejahatan dan kegagalan Negara untuk melindungi warga Negaranya. Demikian siaran pers Badan Pelayan Pusat Persekutuan Gereja-gereja Baptis Papua (PGBP) yang disampaikan kepada tabloidjubi.com melalui surat elektronik, Minggu (24/6) malam.

"Kekerasan dan kejahatan telah ini menimbulkan keresahan dan ketakutan yang luar biasa di tengah-tengah penduduk Asli Papua dan non Papua. Rasa saling curiga antara Papua dengan pendatang, aparat keamanan dengan orang asli Papua. Ditambah lagi dengan beredarnya berita SMS yang tidak bertanggunjawab yang mengganggu ketenangan dan kenyamanan umat Tuhan di Tanah Papua." kata Socratez Sofyan Yoman, Ketua Umum Badan Pelayan Pusat Persekutuan Gereja-gereja Baptis Papua.

Seperti diketahui bersama, kasus kejahatan terhadap kemanusiaan yang memilukan  dan mencederai hati nurani manusia yang dilakukan Orang Terlatih Khusus (OTK) adalah menembak mati  Terloji Weya pada 1 Mei 2012 di Abepura;  Arkhilaus Rafutu (45) pada 19 Mei 2012 di Mulia, Puncak Jaya;  Paulus Tandiesse (20) pada 22 Mei 2012 di Skyline, Jayapura;  Syaiful Bahri (24) di Waena, Jayapura, 22 Mei 2012 (terbakar dalam mobil); Anthon Aruang Tandila (47)  pada 29 Mei 2012 di Mulia, Puncak Jaya;  Ajud Jimmy Purba (19) di Waena, Jayapura, pada 3 Mei 2012;  Tri Sarono di Abepura, Jayapura,pada 10 Juni 2012.

Sedangkan masyarakat sipil yang ditembak mati oleh aparat keamanan baik dari pihak TNI dan POLRI  adalah  Yesaya Mirin (21) di Sentani, Jayapura, pada 4 Juni 2012 yang dibunuh oleh kepolisiaan;  Imanuel Paniel Taplo (20) di Jayapura, pada 4 Juni 2012 dibunuh oleh kepolisian;  Elius Yoman (30) dibunuh  oleh anggota Batalyon 756 di Wamena, pada 6 Juni 2012; Teyu Tabuni (20) di Dok V Jayapura, pada 7 Juni 2012 dibunuh oleh kepolisian;  Mako Tabuni, Wakil Ketua I KNPB oleh aparat kepolisiaan di Waena,Jayapura, pada 14 Juni 2012.

Selain itu, pada tanggal 4 Juni 2012, pada jam pukul 22.00 WIT, di Entrop, Jayapura, Orang Tak Dikenal (OTK) menembak anggota TNI Pratu Doengki Kune dari kesatuan Denzipur 10 yang mengenai bagian bawah dagu sebelah kanan tembus ke sebelah kiri dan tulang dagu pecah.  Pada 4 Juni 2012, jam 22.10,  di  Jalan Samratulagi Jayapura,  dengan kantor perhubungan Provinsi Papua yang berjarak sekitar 30 meter dari Markas Polda Papua,OTK mengikuti dan menembak Iqbal dan Ardi Jayanto  dengan 1 (satu)  kali tembakan mengenai pinggang dan tembus ke perut kanan dan ke pinggang belakang Ardi. Gilbert  Febrian Mardika, (16), siswa SMA Kalam Kudus ditembak Orang Tak Dikenal (OTK) di Skyline Jayapura, pada 4 Juni 2012. Korban dibawa ke Rumah Sakit Umum Jayapura dan dalam keadaan kritis.    Pieper Dietmar Helmut (55/lak-laki) warga Negara Jerman ditembak oleh Orang Tak Dikenal  OTK) di Pantai Base G pada 29 Mei 2012.   Dan   pengiriman berita provokatif yang tidak bertanggungjawab melalui SMS yang dinyatakan bahwa orang gunung akan menyerang orang pendatang.

Analisa PGBP tentang tujuan dan misi utama yang mau dicapai melalui peristiwa kekerasan dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang telah diuraikan tadi, menurut Yoman adalah sebagai berikut:

Pertama, peristiwa-peristiwa tadi  merupakan reaksi  dari Universal Periodic Review (Tinjauan Periodik Umum)  dari  Komisi Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa  di Jenewa, Swiss, pada 23 Mei 2012;   dari hampir  14  Negara termasuk Amerika Serikat   mempertanyakan  kekerasan dan kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh Pemerintah dan aparat keamanan Indonesia terhadap penduduk asli Papua.    Karena itu Orang Terlatih Khusus yang disebut  Orang Tak Dikenal (OTK)  berusaha mengubah opini masyarakat internasional dan anggota PBB  bahwa perjuangan damai rakyat  dan bangsa Papua diarahkan pada  perjuangan dengan pendekatan kekerasan dan melanggar Hak Asasi Manusia. OTK berusaha menunjukkan bukti bahwa  rakyat Papua  menembak Warga Negara Asing (WNA), anggota aparat keamanan dan warga sipil pendatang. 

Kedua, Orang Terlatih Khusus yang disebut Orang Tak Dikenal (OTK) berusaha  mengalihkan perlawanan vertikal antara rakyat dan bangsa Papua  dengan  Pemerintah Indonesia selama bertahun-tahun hampir 51 tahun sejak 1961  untuk mencari rasa keadilan dan hak politik  rakyat Papua diarahkan kepada perlawanan orizontal antara  orang Papua dengan orang-orang pendatang. Itu terbukti dengan penembakan dari OTK terhadap orang-orang non-Papua dan aparat keamanan yang akan membenarkan (menjustifikasi) bahwa pelaku-pelaku kekerasan dan kejahatan kemanusiaan adalah orang asli Papua.

Ketiga, pembunuhan  Musa Mako Tabuni dengan tiga tujuan: (1)  Semua penembakan dan pembunuhan yang dilakukan oleh Orang Terlatih Khusus (OTK) dituduhkan kepada Musa mako Tabuni dan KNPB; (2)  untuk menghilangkan jejak supaya rahasia-rahasia kerja sama dengan OTK selama ini tidak terbongkar; (3) Negara dan Pemerintah Indonesia melalui kekuatan aparat keamanan berkomitmen dan secara sistematis, brutal  dan cara-cara kriminal untuk menghancurkan gerakan perlawanan sipil rakyat dan bangsa Papua Barat.

Keempat, aparat keamanan melakukan pembohongan publik tentang penembakan dan pembunuhan terhadap Musa Mako Tabuni.  Aparat keamanan Indonesia menyatakan bahwa Musa Mako Tabuni melakukan perlawanan pada saat aparat keamanan berusaha menangkapnya dan Mako Tabuni memegang pistol untuk menembak aparat keamanan.  Berita ini sangat memalukan dan menghancurkan kredibitlitas aparat keamanan Indonesia di mata rakyat Indonesia dan masyarakat Internasional. Karena yang benar adalah Musa Mako Tabuni tidak melakukan perlawanan dan tidak mempunyai pistol. Di tangan Mako pada saat itu adalah hanya pinang dan sirih.

Kelima, aparat keamanan hanpir  empat orang anggota. Tapi tidak mampu menangkap Musa Mako Tabuni. Pertanyaannya ialah apakah Musa Mako Tabuni itu mempunyai kekuatan besar sehingga aparat keamanan yang lengkap dengan senjata ini tidak mampu menangkap dan menahan Mako Tabuni?   Ada beberapa  luka: kepala belakang, paha kiri dua kali tembakan, paha kanan 1 kali tembakan dan semua dijahit oleh petugas keamanan dari Rumah Sakit Bhayangkara.

Dari uraian kasus dan analisa ini, PGBP merekomendasikan:

Pertama, semua orang yang berada dii Tanah Papua, baik penduduk asli Papua dan penduduk non-Papua, kita bersama-sama bersatu dan melawan kekerasan dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Papua dijaga sebagai rumah  dan tanah kita bersama.

Kedua, kepada saudara-saudara Non-Papua perlu mengetahui bahwa perjuangan penduduk asli Papua bukan perjuangan membunuh dan menyusahkan sesama manusia. Melainkan, rakyat dan bangsa Papua berjuang melawan kekerasan dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Berjuang untuk meraih  nilai-nilai keadilan, harkat dan martabat manusia, kesamaan derajat, kedamaian.  Melawan eksploitasi, marjinalisasi, dominasi dan ketikadilan di atas tanah ini.

Ketiga,  Segera diadakan dialog damai dan setara  antara pemerintah Indonesia dan rakyat Papua tanpa syarat yang dimediasi pihak ketiga yang netral.

Keempat, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengutus Pelapor Khusus ke Papua untuk melihat situasi  dalam misi kemanusiaan di Tanah Papua.  Karena, Penduduk Asli Papua berada dalam bahaya dan ancaman serius pemusnahan etnis yang dilakukan oleh Negara.

Kelima, Pemerintah Indonesia dan aparat keamanan jangan “mengkambing-hitamkan” penduduk asli Papua tentang kekerasan dan kejahatan kemanusiaan di Tanah Papua selama ini.  Aparat kepolisian segera mengungkap siapa aktor yang sesungguhnya dibalik kekerasan dan kejahatan kemanusiaan di Tanah Papua selama ini. Walaupun ada pelaku penembakan turis Jerman, Pieper Dietmar pada tanggal 29 Mei 2012 di Base G adalah orang asli Papua, yang harus dicari dan ditangkap adalah siapa yang berdiri dibelakang mereka.  

Keenam, pemerintah dan aparat keamanan Indonesia harus berhenti dan jangan merendahkan martabat umat Umat di Tanah Papua dengan alasan keamanan Negara atau integritas NKRI.  Pembunuhan dan kekerasan terhadap kemanusiaan berlawanan dengan nilai-nilai Pancasila.

Sumber : http://tabloidjubi.com