search tickets in here

Mikael Manufandu : Aparat Sengaja Membiarkan Penembakan Terjadi Di Papua

Mikael Manufandu
KRBNews - Kekerasan di Papua semakin meluas, bahkan penembakan terakhir di tanah cendrawasih itu sudah terjadi di ibu kota Provinsi, Jayapura. Masalah kekerasan dan pelanggaran HAM yang sering terjadi di Papua kembali menjadi isu internasional yang diperbincangkan.

Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara Komisi I DPR RI, tokoh Papua dan LIPI, Kamis (7/6), berpendapat bahwa kekerasan yang terjadi karena adanya pembiaran yang dilakukan oleh pemerintah, dalam hal ini aparat penegak hukum.

Menurut mantan Duta Besar Indonesia untuk Kolombia Mikael Manufandu yang hadir mewakili rakyat Papua menyesalkan penyelesaian yang berlarut-larut, padahal bisa diselesaikan secepatnya.

"Jangan salahkan orang gunung turun, ini karena proses yang sangat lama. Jangan salahkan kami. Pemilu kada, penembakan semua ditunda-tunda, sebenarnya ini bisa diselesaikan, masa teroris bisa ditangkap, penembakan seperti ini tidak bisa," ujarnya.

Dirinya memaparkan, sekelas ibu kota provinsi, Jayapura sudah memiliki perangkat keamanan baik TNI maupun kepolisian untuk menindak kejadian kriminal seperti itu.

Yang menjadi pertanyaan, tambah Mikael, adalah tidak adanya jawaban dan penjelasan dari aparat sehingga menimbulkan ketidakpercayaan yang berdampak pada kekecewan dalam bentuk kekerasan.

"Saya pernah jadi Wali Kota disana, masalah seperti ini bisa cepat diselesaikan. Ada apa ini?" pungkas Mikael.

Kekecewaan rakyat Papua saat ini menjadi akumulasi selama 50 tahun menjadi bagian Indonesia yang terabaikan. Untuk itu dalam RDP tersebut, Mikael mendorong agar Komisi I membuka pintu dialog dengan presiden secara langsung.

"Bapak presiden mohon buka pintu dialog, lihat kami sebagai saudara, ini terjadi karena ketidakmengertian akan budaya Papua, tolong Komisi I mendorong untuk bisa berdialog dengan presiden," kata Mikael.