Jayapura Memanas, Penyataan Kapolda Tidak Terbukti

11:26:00 AM
KRBNews, JAYAPURA - Situasi keamanan  dan  ketertiban  di Papua  pada umumnya  di Kota Jayapura khususnya, makin tak kondusif, pascaaksi-aksi  penembakan  dan  kekerasan  yang  dilakukan  orang  tak  dikenal. Siapa pun yang berada di Jayapura, baik WNI  maupun  warga  negara asing, keamanannya terancam oleh pihak  yang  tak  diketahui  asal-muasalnya.

Dalam sehari, empat korban jatuh akibat kekerasan, dua anggota TNI Wamena Ibukota Kabupaten Jayawijaya dan dua orang di Kota Jayapura.
Di Wamena, anggota TNI Batalyon 756 Wamena, Ahmad Sahlan tewas dengan luka tikam di dada tembus jantung dan Parloi Pardede ditikam dibagian dada, masih kritis di Rumah Sakit Wamena, Rabu (6/6) sore.

Keduanya dikeroyok oleh warga Honai Lama karena sepeda motor mereka menyerempet anak kecil. Pascakejadian, puluhan rekan korban mengamuk dan menembak secara membabi buta di dalam Kota Wamena. Mereka juga merusak berbagai fasilitas umum.

Situasi sempat tidak terkendali, bahkan aparat kepolisian tidak bisa bertindak. Bupati Jayawijaya, Jhon Wempi Wetipo  dihubungi wartawan  dari Jayapura, Kamis (7/6) pagi menyesalkan tindakan puluha aparat TNI.

“Seharusnya, kasus itu diserahkan ke Kepolisian agar diselesaikan secara hukum, bukan dengan cara membalas dendam, apalagi merusak fasilitas yang dibangun dengan uang rakyat. Saya sangat menyesalkan, kenapa masalah yang terjadi di Honai Lama merambat ke kota lain,” katanya.

Fasilitas yang dibangun oleh pemerintah seharusnya dijaga untuk membela negara. Tapi malah tentara merusak fasilitas. “Saya mau bertanya, sebenarnya mereka mau melawan siapa? Membela negarakah atau merudikan Negara dan Rakyat? Kasus ini akan dilaporkan langsung ke Panglima Kodam XVII Cendrawasih,” katanya.

Ketua Dewan Adat Jayawijaya, Lemok Mabel mengatakan, situasi saat ini di Wamena mencekam pascatewasnya anggota TNI. "Daerah sekitar Sinakma digeledah tentara, ada perusakan rumah dan penembakan. Warga mengungsi jauh dari kota," ujarnya.

Ia meminta pemerintah segera melakukan perlindungan pada warga sipil. "Kalau tidak, nanti banyak orang jadi korban. Ada beberapa rumah sudah dibakar tentara," katanya.

Sementara itu, Rabu siang pukul 12.00, ditemukan mayat perempuan, Diana W Borotai (22), dalam kondisi luka-luka di sekujur tubuhnya di Pantai Hol 2 Abepantai. Kedua kaki korban dalam kondisi terikat dengan tali nilon berwarna hijau, sedangkan wajah korban ditutup dengan batu-batuan. Kapolsek Abepura Kota saat dihubungi SP, Rabu pagi mengatakan, pihaknya belum bisa memastikan apakah wanita itu korban perkosaan atau kekerasaan. “Sebab sampai saat ini belum ada saksi yang mengetahui kejadian tersebut,” ujarnya.

Pada hari yang sama, penembakan kembali terjadi oleh orang tidak tidak dikenal. Korbannya adalah  anggota PNS Kodam XVII Cenderawasih, Arwan yang ditembak sekitar  pukul  21.20 WIT, Rabu malam. Korban mengalami luka tembak di bagian leher sebelah kiri dan tembus hingga leher bagian kanan.

Menurut Kapendam 12 Cendrawasih, Kolonel Inf Ali Hamdan Bogra mengatakan, hingga Kamis pagi korban sedang dirawat instensif di ICU RS Marthen Indey. Korban masih dalam keadaan kritis.


Dijelaskan, Arwan yang menyambi sebagai tukang ojek, membawa seorang penumpang dari pangkalan ojek Kimia Farma, Jalan Masuk Paldam, menuju Entrop. Motor melaju melalui jalan baru belakang Kantor Wali Kota Jayapura sekitar pukul 21.20 WIT.
Namun, sesampai di jalan baru, penumpang melompat dari motor dan menembak korban. Dalam keadaan luka, Arwan memacu motornya menuju Pos Jaga Wisma Cendrawasih Kodam XVII. Sesampai di sana, oleh petugas jaga, korban dievakuasi ke RS Marten Indey.   
Kondisi di Papua yang makin tak kondusif mengingatkan warga atas janji-janji Kapolda Papua, Irjen Pol Drs Bigman Lumban Tobing. Dalam jumpa pers di Mapolda Papua, Rabu (6/6) siang  pukul  13.30 WIT, Kapolda mengatakan dengan tegas dirinya akan menjamin keamana di wilayah ini. “Saya akan menghadapinya di depan,” ujarnya.

Ternyata, ucapan Kapolda tak terbukti, korban kembali berjatuhan.
Dalam jumpa pers tersebut, Kapolda mengatakan, sesuai fungsi dan peran untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat di wilayah hukum Polda Papua, pihaknya akan meningkatkan volume penjagaan dan patrol, dengan menggerakkan seluruh jajarannya. “Siapa yang mengatakan polisi lembek dan lamban? Yang jelas, kami punya SOP pengamanan. Silahkan menilai, tapi beri kami kesempatan untuk bekerja,” ujarnya.

Kapolda mengklaim, sudah punya nama-nama para pelaku kekerasan selami ini. “Saya belum bisa menyebutkan  identitas mereka. Saya kira, kita sama-sama sudah memaklumi siapa oknum ini. Yang jelas, oknum yang melakukan perbuatan ini harus bertanggung jawab, baik secara hukum maupun moril, atas dampak yang terjadi selama ini. Mudah-mudahan dalam waktu dekat  pelakunya bisa ditangkap,” katanya.

Sementara itu, Ketua I Komite Nasional Papua Barat (KNPB), Mako Tabuni membantah semua aksi kekerasan yang terjadi salami ini dilakukan oleh  pihaknya. “Jangan asal tuduh, itu fitnah,” ujarnya kepada wartawan di Prima Garden Café, Rabu (6/6) sore.

Dikatakan, kalau hanya asal tuduh semua bisa melakukannya.  “Bila ada bukti silahkan tangkap,” ujarnya.

Share this

Media Online Seputar Ekonomi, Politik, Sosial, Budaya, Pendikan, dan Kesehatan di Tanah PAPUA !

Related Posts

Previous
Next Post »