Berita

Ia Terlahir untuk Melawan


KRBNews, Papua - Kematian aktivis Komite Nasional Papua Barat atau KNPB, Mako Tabuni pada 14 Juni lalu menyentak Jakarta. Pasalnya, insiden penembakan Tabuni oleh aparat polisi hingga tewas itu memicu kerusuhan besar di Abepura, Papua.

Kekecewaan rakyat Papua kepada pemerintah pusat kian meluas dengan insiden Mako Tabuni. Hal itu membuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengutus Menko Polhukam Djoko Suyanto, Kapolri Jenderal Pol Timur Pradopo dan jajaran pemerintah lainnya untuk meredam situasi dan mencari solusi atas persoalan Papua.

Sebenarnya apa yang memicu rentetan kekerasan di Papua dan siapa sebenarnya siapa Mako Tabuni? Seperti apa gerakan perlawanan masyarakat Papua atas ketimpangan sosial yang melanda warga asli Papua.

Berikut hasil wawancara Wakil Ketua KNPB Mako Tabuni, beberapa waktu lalu.

Mako Tabuni lahir di kampung Piramid, kabupaten Jayawijaya, Papua, pada 1979. Sebuah kampung yang menjadi basis perlawanan rakyat Papua terhadap operasi dan pendudukan militer yang dilakukan oleh Angkatan Bersenjata Republik Indonesia pada 1977.

Sehingga, Mako menghabiskan masa kecilnya dengan cerita-cerita derita konflik keluarga Papua.

Semasa Sekolah Dasar (SD), Mako sering mendengarkan cerita dari para orang tua, termasuk orang tuanya sendiri, tentang perlawanan orang-orang Papua terhadap kekuatan militer Indonesia.

"Walaupun buta huruf tapi tahu kemanusiaan," kata Mako.

"Yang memimpin gejolak 1977 itu anak-anak tamatan SD semua, tapi mereka mengerti (arti) kebebasan itu," kata Mako Tabuni kepada saya, dalam sebuah wawancara di Jakarta. beberapa waktu lalu.

Mako kecil, tumbuh sebagai anak-anak yang hidup di daerah konflik. Ia secara langsung merasakan derita sebagai anak-anak Papua.

Ia mendapatkan cap dan stigma sebagai anak pemberontak. Setiap tanggal 12 atau 13 Agustus sampai 18 Agustus, ia menyaksikan bapaknya digiring dan ditahan di Polres Distrik Asologaima, Jaya Wijaya, Papua.

“Setiap tanggal 17 Agustus harus di tahanan karena ulahnya kakak laki-laki yang dianggap pemberontak. Jadi setiap 12 atau 13 Agustus Bapak saya di tahanan dan dibebaskan pada 18 Agustus," kata Mako.

Sejak Orde Baru, negara melalui militer memberlakukan hukuman itu bagi mereka yang ikut atau orang tuanya tersangkut dalam makar atau merongrong kekuasaan negara, seperti cap komunis di Jawa.

Karena masih kecil, Mako tak mengerti mengapa ayahnya mesti ditahan setiap menjelang tanggal 17 Agustus, hari kemerdekaan Republik Indonesia. Ia juga tidak mendapatkan jawaban tiap kali ia bertanya.

Hingga di suatu saat, di bulan Agustus, dimana Mako sudah duduk di kelas 5 SD, Mako pergi ke dalam sel penjara di Koramil Distrik Asologaima, kabupaten Jayawijaya, untuk bertemu dan mengantar makanan buat bapaknya.

"Bapak saya cerita, kenapa Bapak begini? Kenapa begini?,” kata Mako, terdiam beberapa saat, menarik nafas panjang dan berat, hingga keluar air mata dan terisak.

"Tidak apa-apa ya," katanya, sambil menahan isakan.

"Dia menjawab kamu jangan pernah menyalahkan kakak laki-laki. Karena dia beranggapan bahwa perjuangan kakak pertama saya itu walaupun dicap oleh negara sebagai pemberontak, tapi dia bilang sesuai harga diri suatu bangsa, sesuai hati nurani dan sesuai Injil yang diterima agama Kristen," kata Mako, kembali terisak.

"Itu dia yang pernah ada cerita. Karena dia berjuang bukan untuk atas nama pribadi dia, keluarga atau atas nama sukunya. Tapi dia melihat jauh lebih besar, untuk menyelamatkan orang-orang, umat Tuhan yang ada di Papua. Maka, saya pun tidak tahu, tidak tahu apa arti kemerdekaan itu. Tapi saya menghormati anak itu. Saya terima risiko, apa pun akibat dari anak itu biarlah saya yang terima," kata Mako, menirukan ucapan ayahnya saat di dalam penjara.

Pesan terakhir yang sangat menyentuh Mako, ketika Bapaknya menuturkan, "Jangan pernah salahkan, atau marah, atau benci, terhadap langkah yang ditempuh kakakmu karena dia orang benar, dekat dengan rakyat, sukunya, bangsanya."

Cerita pahit dan takut ketika masa kanak-kanak juga dia alami ketika kakak keduanya pulang kampung, yang waktu itu sedang sekolah di Jayapura. Mako menuturkan, “waktu itu tentara Indonesia mengurung honai adat, termasuk keluarga kami, dari jam 11 malam sampai jam 8 pagi. Begitu keluar sudah dikelilingi tentara dan orang-orang proNKRI, mereka bilang kakak kedua saya diantar kakak laki-laki pertama, yang dicap OPM. Nah, di situ saya melihat pertama kali kekerasan suatu negara Republik Indonesia."

"Dorang giring kakak laki-laki itu ke Koramil. Di sana dia dipukul, disiksa, diinterogasi. Lalu dikeluarkan karena dia punya kartu dan data perjalanan yang jelas," kata Mako lagi. 

Dua hal yang dialami dan dirasakan Mako semasa kecil melihat bapaknya ditahan adalah, pertama ketakutan dan kedua trauma kalau melihat tentara.

Pengalaman itu membuatnya ia menjadi remaja yang penuh pergumulan. Ketika duduk di bangku SMP, ia mengaku mulai memikirkan sesuatu yang dialaminya di masa kecilnya.

Cerita dan pengalaman pahit dari kekerasan dan hidup dengan suasana menakutkan mulai ia pertanyakan. Dan, sejak ia masuk ke SMP kelas 2 mulai berpikir dan bertindak.

"Nah mulai SMA saya mulai bersikap, di hadapan guru-guru saya melawan. Tindakan melawan itu sudah saya anggap hal biasa," kata Mako, mengenang ketika ia belajar di SMU Negeri 1 Asologaima, Jayawijaya.

About Karoba News

Media Online Seputar Ekonomi, Politik, Sosial, Budaya, Pendikan, dan Kesehatan di Tanah PAPUA !
Powered by Blogger.