search tickets in here

Aksi Teror kian Menggila di Papua

KRBNews, Papua - Polri beralasan kasus-kasus penembakan di Papua sulit diungkap karena minim saksi.

TEROR terus terjadi di Papua. Tiga warga Jayapura, satu di antaranya anggota TNI, menjadi korban penembakan orang tak dikenal, Selasa (5/6) sekitar pukul 22.30 WIT.

Ketiga korban ialah Iqbal Rifai, 22, warga Hamadi, Ardi Jayanto, 22, warga Klofjakmp, dan anggota Den Zipur 10/Kodam Cenderawasih, Pratu Doengki Kune, 24. Iqbal dan Ardi ditembak di Jl Sam Ratulangi di depan Kantor Dinas Perhubungan Papua saat berboncengan sepeda motor.

Ketika itu, Iqbal dan Ardi hendak pulang seusai makan malam. Tiba-tiba dari arah belakang seorang pengendara motor melepaskan tembakan yang menembus dada Iqbal kemudian mengenai Ardy. Kedua korban dirawat intensif di RSUD Dok II Jayapura. Sementara itu, Doengki ditembak di depan Perumahan Pemda Entrop.

Kekerasan di Papua juga berlanjut, kemarin. Dua anggota Batalyon Infanteri 756/WMS, Pratu Ahmad Ruslan dan Pratu Ahmad Sarifudin, dikeroyok massa di Honai Lama, Wamena, setelah tidak sengaja menyerempet salah satu warga.

Pengeroyokan itu mengakibatkan Ahmad Ruslan tewas karena terkena tusukan di dada, sedangkan Ahmad Sarifudin kritis dan kini dirawat di RS Wamena. Rekan-rekan korban pun marah. Mereka turun ke jalan sembari melepaskan tembakan belasan kali. "Wamena mencekam. Saya tak berani keluar rumah. Mereka seperti kuasai kota," kata seorang warga.

Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih Kolonel Inf Ali Bogra mengakui kejadian tersebut. "Tetapi situasi sudah kondusif," ujarnya.

Insiden tersebut menambah panjang daftar kekerasan dan teror yang melanda Papua. Pada 17 Mei, misalnya, tukang ojek bernama Arkilaus Refwutu tewas tertembus oleh timah panas di Distrik Mulia. Kemudian, 29 Mei, turis asal Jerman Pieter Dietmar Holmut ditembak saat melancong di Pantai Base G, Jayapura, tetapi ia selamat.

Tidak terungkap
Ironisnya, pelaku penembakan di Papua tak pernah terungkap. Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretaris Daerah Provinsi Papua Elieser Renmaur mengharapkan kepolisian bekerja profesional mengusut pelaku dan aktor intelektualnya.

Di Jakarta, Kepala Divisi Humas Polri Irjen Saud Usman Nasution beralasan kasus-kasus penembakan di Papua belum terungkap karena polisi sulit meminta keterangan saksi kejadian. "Anggota datang kan setelah kejadian. Tahunya dari korban. Korban kan tidak tahu persis tentang pelaku. Selama saksi minim, susah terungkap," tukasnya.

Juru Bicara Presiden Julian Aldrin Pasha menyatakan penembakan yang terus terjadi menunjukkan kondisi di Papua dan Papua Barat masih sangat labil. "Masih ada kelompok pengacau di sana yang memang harus disikapi dan diambil tindakan dengan tegas," tegasnya.

Secara terpisah, Koordinator Jaringan Damai Papua yang juga Rektor Sekolah Tinggi Filsafat Theologia Fajar Timur, Jayapura, Pater Neles Tebay mendesak pemerintah pusat mengintensifkan dialog dengan seluruh pemangku kepentingan di Papua. Menurutnya, sejak Januari hingga akhir Mei 2012, terjadi 17 kali penembakan di Bumi Cenderawasih.