Berita

Sejarah Papua Dalam Kacamata 2 Generasi


KRBNews, - Buchtar Tabuni, pemuda Papua pimpinan Komite Nasional Papua Barat [KNPB], berkata dengan lantang dihadapan massanya “Jadi kami turun kejalan supaya masyarakat Papua mengetahui bahwa pada tanggal 1 Mei merupakan hari pemaksaan Bangsa Papua Barat kepangkuan NKRI ,”. Massa bersorak sorai membalas orasi Tabuni di Taman Imbi, 1 Mei lalu.

Massa Tabuni berdemo dan berarak dari arah Abepura bergerak menuju Taman Imbi. Dalam melakukan aksi demo ini, massa membawa panah dan busur. Bahkan massa merelakan dirinya dihiasi gambar bintang kejora.

Dikatakan Tabuni selam orasinya bahwa rakyat Papua akan tetap memperingati tanggal 1 Mei sampai kapanpun sebagai hari menentang aneksasi Papua kepangkauan NKRI. Tanggal 1 Mei merupakan hari yang bersejarah bagi Bangsa Papua Barat. Artinya bahwa sebelumnya telah ada perjuangan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh Bangsa Papua Barat.‘’Dari dulu sampai sekarang kami menentang masuknya Bangsa Papua Barat kepangkuan NKRI,’’ imbuhnya.

Bahkan saat ini kata dia akan dihidupkan kembali kantor Niew Guinea Rad yang berada di dekat taman Imbi sebagai Lembaga Representatif politik Bangsa Papua yang terbentuk sejak tahun 1961.Dalam aksinya massa KNPB menyampaikan pernyataan sikap yang berisi Komite Nasional Papua Barat telah dimediasi seluruh rakyat Papua Barat untuk menghidupakan kembali Niew Guinea Raad dengan merubah nama Parlemen Nasional West Papua pada saat konferensi tanggal 4-5 April tahun 2012 di Hollandia.

Terbentuknya kembali Niew Guinea Raad lanjutnya, berarti keabsahan pemerintahan kerajaan Nederland diakui dan masih tetap ada dan tidak dibubarkan oleh Bangsa Papua penduduk pribumi West Papua. Hidupnya kembali Niew Guinea Raad yang juga merupakan Parlemen Nasional West Papua akan melanjutkan cita-cita kemerdekaan bangsa Papua dalam penentuan nasib sendiri.

Di sisi lain seorang tokoh pejuang Papua, Ramses Ohee dengan tenang dan tidak berapi-api menjawab sesumbar Buchtar Tabuni.

Dikatakan Ramses, sejarah masuknya Irian Barat (Papua) ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sudah benar sehingga tidak perlu dipertanyakan dan diutak-atik lagi. Hal tersebut menanggapi sejumlah kalangan yang masih mempersoalkan sejarah masuknya Papua ke dalam wilayah Indonesia yang telah ditetapkan melalui Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) pada 1969 silam.

Ramses menegaskan, ada pihak-pihak yang sengaja membelokkan sejarah Papua untuk memelihara konflik di Tanah Papua. Sejarah masuknya Papua ke dalam NKRI sudah benar, hanya saja dibelokkan sejumlah warga tertentu yang kebanyakan generasi muda.

Lebih lanjut dijelaskannya, fakta sejarah menunjukkan keinginan rakyat Papua bergabung dengan Indonesia sudah muncul sejak pelaksanaan Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928. Sayangnya, masih ada yang beranggapan bahwa Sumpah Pemuda tidak dihadiri pemuda Papua. Ini keliru, karena justru sebaliknya, para pemuda Papua hadir dan berikrar bersama pemuda dari daerah lainnya. Ayah Ramses, Poreu Ohee adalah salah satu pemuda Papua yang hadir pada saat itu.
Adapun mengenai pihak-pihak yang memutarbalikkan sejarah dan masih menyangkal kenyataan integrasi Papua ke dalam NKRI, Ramses tidak menyalahkan mereka karena minimnya pemahaman atas hal tersebut.

Menurutnya, hal yang perlu disadari adalah bahwa keberadaan negara merupakan anugerah Tuhan Yang Maha Kuasa sehingga seharusnya disyukuri dengan memberikan kontribusi positif bagi pembangunan di Papua.

About Karoba News

Media Online Seputar Ekonomi, Politik, Sosial, Budaya, Pendikan, dan Kesehatan di Tanah PAPUA !
Powered by Blogger.