Pasca Baku Tembak dengan OPM, Polisi Waspada

"Kami minta anggota untuk tidak lengah lagi karena penembakan bisa terjadi kapan saja."

KRBNews
- Hari ini, tepatnya pukul 08.55 WIT, terjadi baku tembak antara Brimob dengan Kelompok separatis OPM di Kampung Wandenggobak Distrik Mulia Puncak Jaya, Papua. Insiden ini menewaskan Briptu Sukarno dan polisi saat ini makin meningkatkan kewaspadaan di Puncak Jaya.

''Selain melakukan pengejaran terhadap para pelaku penembakan, Polisi dan TNI juga meningkatkan patroli rutin serta kesiapan dan kewaspadaan satuan/posko yang ada di puncak Jaya,'' kata Kombes Wachyono, juru bicara Polda Papua.

Pelaku penembakan, menurut Wachyono, bisa setiap saat beraksi saat anggota di lapangan lengah. ''Kami minta anggota untuk tidak lengah lagi, karena penembakan bisa terjadi kapan saja dan di mana saja di wilayah Puncak Jaya,'' ujarnya.

Briptu Sukarno anggota Brimob Kotaraja Papua, tewas tertembak saat ia bertugas bersama 12 anggota lain. Saat itu pasukan sedang melakukan pengamanan pada alat berat milik PT. Modern yang sedang melakukan pekerjaan jalan.

''Kronologis kejadian, pukul 08.00 WIT, satu regu anggota Satbrimob Polda Papua sedang melaksanakan Patroli keamanan di sekitar lokasi pekerjaan jalan. Tepatnya, di distrik Wandigobak. Pukul 08.30 WIT, Satbrimob tersebut, mendapat gangguan keamanan berupa tembakan dari arah Kali Semen yang diduga dilakukan oleh OPM. Selanjutnya, anggota Satbrimob Polda Papua membalas tembakan ke arah sumber tembakan,'' ujarnya.

Namun, saat kontak senjata berlangsung,  Briptu Sukarno, terkena tembakan pada bagian pipi kiri, hingga menembus kepala atas. Ia langsung meninggal dunia di tempat kejadian.

''Karena tembakan mengenai pipi dan tembus kepala, korban tewas di tempat tanpa sempat diselamatkan ke rumah sakit,'' kata Kombes Wachyono.
Tanggapan DPRD

Ketua DPRD Puncak Jaya, Nesko Wonda mengatakan kalau pihaknya sudah berupaya merangkul kelompok bersenjata, untuk duduk bersama. Hal ini untuk mencegah terjadinya kembali insiden penembakan yang memakan korban.

''Kami sudah coba ajak mereka duduk bersama membahas apa sebenarnya yang mereka inginkan, tapi mereka tidak pernah menanggapinya,'' ujar Nesko.

Ia juga mengungkap dampak negatif penembakan. Yaitu, dari 8 distrik, ada 4 distrik yang pembangunan sama sekali tak berjalan.

''Empat distrik yakni Tingginambut, Mulia, Yamo dan Mewoluk sama sekali tidak ada pembangunan. Sebab, apapun yang dibangun pemerintah  di keempat distrik yang diduga dijadikan Markas OPM, selalu dibakar atau dirusak kelompok tersebut,'' jelas Nesko.

Kelompok separatis itu juga bukan hanya membakar atau merusak kantor pemerintah, namun juga sekolah. Beberapa minggu lalu, menurut Nesko, SD Wandigobak juga dibakar.

Saat ini, kelompok OPM di puncak jaya ada beberapa faksi. Ada kelompok Rambo Tabuni yang mengklaim anak Marunggen Tabuni, lalu kelompok marugen Telenggen anak Werius Telenggen.

"Ada juga kelompok lain yang kerap beraksi di Kota Mulia dengan mengklaim sebagai Komando Daerah Papua Kodap X,'' ujar Nesko.

About Karoba News

Media Online Seputar Ekonomi, Politik, Sosial, Budaya, Pendikan, dan Kesehatan di Tanah PAPUA !
Powered by Blogger.