OPM Siap Letakkan Senjata


Friday, 16 December 2011

JAYAPURA -- Organisasi Papua Merdeka siap meletakkan senjata dan menghentikan perang dengan aparat keamanan Indonesia. "Markas besar OPM meminta agar pertahanan Papua Barat di Paniai menahan diri dan jangan membalas serangan," kata Lambert Pekikir, Koordinator OPM wilayah Papua, saat dihubungi kemarin.
Menurut Lambert, pihaknya menyesali adanya penyerbuan aparat keamanan Indonesia ke sebuah tempat yang disebut sebagai markas Tentara Pertahanan Nasional Divisi II Makodam Pemka IV di Eduda pada Selasa lalu.
Masalah Papua Barat menurut dia sudah final. "Masyarakat internasional mendukung penuh kemerdekaan Papua. Pemerintah Indonesia sendiri sudah tahu itu, tapi mengapa masih tetap ada dropping pasukan untuk menyerang OPM," ucapnya.
Ihwal jatuhnya korban dari pihak OPM, Lambert mengaku bisa menerimanya. "Itulah pengorbanan yang harus diberikan untuk mencapai kemerdekaan penuh," ujarnya. Lambert menambahkan, tak ada gunanya baku tembak. "Kita tunggu saja saatnya Papua merdeka." Dia meminta pemerintah tidak bermuka dua dengan mengirim utusan dalam pembicaraan damai, namun juga mengirim pasukan untuk mengejar OPM.
Aparat Kepolisian Daerah Papua pada Selasa lalu menduduki sebuah tempat yang diduga sebagai markas OPM wilayah Paniai. Dalam peristiwa itu terjadi tembak-menembak di antara dua pihak yang mengakibatkan seorang anggota Brimob tertembak di bagian kaki. Adapun dari pihak OPM, menurut Leo Yeimo, juru bicara tentara pertahanan nasional OPM Paniai, ada 14 orang yang tewas.
"Penembakan saat itu membabi-buta. Kami diserang dari helikopter juga dari darat. ABRI (TNI) masuk dan menembak siapa saya yang ada di depan," kata Leo, yang dihubungi kemarin. Korban yang tewas itu, menurut Leo, mengalami luka tembak di beberapa bagian tubuh, seperti punggung, perut, dan dada. Dia menyebut mereka yang tewas adalah pahlawan Papua Barat. "Ini data resmi dari kami dan bukan tipu-tipu," kata Leo.
Leo meminta aparat tidak melakukan penyiksaan terhadap warga sipil demi mencari tahu keberadaan pihaknya. "Sebaiknya aparat segera pergi dari Paniai," ujarnya. Menanggapi pernyataan Leo soal jumlah korban dari pihak OPM, Kepala Polres Paniai Ajun Komisaris Besar Janus Siregar mengatakan belum mengetahui secara detail. "Saya tidak tahu," kata Janus kemarin. Menurut dia, polisi tetap akan melakukan langkah penegakan hukum yang tidak menenggang kelompok yang ingin mendirikan negara dalam negara.
Sementara itu, terkait dengan masalah Paniai, Majelis Rakyat Papua membentuk tim khusus untuk meninjau konflik di sana. Tim ini akan bekerja memfasilitasi pemerintah, tokoh adat, dan aparat keamanan untuk menemukan jalan keluar dari gejolak bersenjata yang telah berlangsung sejak akhir November tersebut.
"Ya benar, kita ada tim yang akan diturunkan ke sana. Sebenarnya hari ini berangkat ke Paniai. Tapi, karena jadwal penerbangan full, kita menunda ini untuk beberapa hari ke depan. Yang berangkat duluan ke Paniai adalah ibu Debora Mote," kata Ketua MRP Timotius Murib kepada Tempo kemarin. Dia mengatakan MRP meminta kelompok sipil bersenjata yang ada di hutan untuk menyerahkan diri.JERRY OMONA

About Karoba News

Media Online Seputar Ekonomi, Politik, Sosial, Budaya, Pendikan, dan Kesehatan di Tanah PAPUA !
Powered by Blogger.