INTIMIDASI MAHASISWA PAPUA

4:56:00 AM

Sultan Minta Mahasiswa Papua Tak Pulang Kampung

Thursday, 17 November 2011

Sri Sultan HB X
YOGYAKARTA -- Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X meminta mahasiswa asal Papua di Yogyakarta tidak pulang ke Papua, meski sejumlah intimidasi mereka alami. "Adik-adik ini masih muda. Kalau pulang, malah kena drop out," katanya. Bagi Sultan, intimidasi tersebut adalah bagian dari tantangan hidup. "Saya juga biasa diteror lewat SMS (short message service)," ujarnya kepada sekitar 20 mahasiswa asal Papua yang menemuinya di kantor Gubernur, Kepatihan, kemarin.
Beberapa mahasiswa yang datang mengenakan hiasan kepala khas Papua, yakni bulu burung cenderawasih. Mereka meminta kejelasan tentang perlindungan yang akan diberikan Sultan sehubungan dengan intimidasi yang mereka alami. "Kalau tidak, banyak di antara kami yang akan melakukan eksodus (pulang ke Papua) karena merasa tak aman di Yogyakarta," ujar Koordinator Mahasiswa Papua di Yogyakarta, Sagrim Hamah, setelah bertemu dengan Sultan kemarin.
Sultan kembali menegaskan, mahasiswa Papua yang kuliah di Yogyakarta adalah masyarakat Yogyakarta juga. Maka mereka berhak mendapat perlindungan dan pemerintah daerah wajib memberikan perlindungan.
Permintaan perlindungan tidak hanya disampaikan kepada mahasiswa Papua yang ada di Yogyakarta. Tapi semua mahasiswa se-Jawa-Bali pun diharapkan mendapatkan perlindungan dari tiap pemerintah daerah. "Sudah 20 persen mahasiswa Papua di Jawa-Bali yang pulang," kata Sagrim, mahasiswa teknik arsitektur Universitas Widya Mataram.
Menurut Sagrim, intimidasi yang mereka alami berupa kiriman pesan pendek lewat telepon seluler dan secara verbal. Sudah ada empat mahasiswa Papua di Yogyakarta yang diintimidasi, yakni tiga di Kota Yogyakarta dan seorang di Gunungkidul. "Ketidaknyamanan ini kami terima pasca-Kongres Papua III di Jayapura lalu," kata Sagrim, yang sedang menunggu diwisuda.
Langkah lain yang akan dilakukan mahasiswa Papua adalah membentuk pos pengaduan yang akan menerima pengaduan dari mahasiswa Papua yang diintimidasi. "Nanti kami yang akan menjembatani komunikasi antara mahasiswa Papua dan pemerintah provinsi kalau terjadi sesuatu," kata Kepala Badan Kesatuan, Kebangsaan, dan Perlindungan Masyarakat DIY Murprih Antoro.
Sekitar 10 petugas intel dari kepolisian dan TNI tampak di bangsal Kepatihan saat pertemuan tertutup mahasiswa Papua dengan Sultan berlangsung. Sekitar 20 polisi juga berjaga di kompleks Kepatihan.
Sementara itu, Wakil Rektor III Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta Jozef Hehanusa menjelaskan, dari sekitar 7.300 mahasiswa Papua di Yogyakarta, sebagian besar mahasiswa asal Papua kuliah di perguruan tinggi swasta, seperti di Universitas Widya Mataram, yang merupakan milik Keraton Yogyakarta, dan UKDW. Di universitas ini, ada 100 mahasiswa asal Papua. Jozef menyatakan tak bisa berbuat banyak soal intimidasi itu. "Perlu ada dukungan dari pemerintah daerah," katanya. l PITO AGUSTIN RUDIANA

Share this

Media Online Seputar Ekonomi, Politik, Sosial, Budaya, Pendikan, dan Kesehatan di Tanah PAPUA !

Related Posts

Previous
Next Post »

search tickets in here