search tickets in here

Ungkap Aksi Teror Papua, Polisi Butuh Bukti


 Jum'at, 28 Oktober 2011, 12:53 WIB

Pengakuan saja dinilai tak cukup, meski pengakuan itu datang dari salah satu kelompok OPM.

VIVAnews – Organisasi Papua Merdeka (OPM) pimpinan Okinak Wonda mengaku bertanggung jawab atas penembakan terhadap Kapolsek Mulia, Komisaris Pol Anumerta Dominggus Awes. Namun polisi tidak serta-merta mempercayai keterangan itu.

“Dasar penyidikan bukan menurut pengakuan. Meski ada orang misalnya datang mengaku membunuh, tapi kalau buktinya belum cukup, kami tidak bisa semata-mata memasukkan dia ke penjara,” kata Kepada Badan Reserse Kriminal Markas Besar Kepolisian RI, Komisaris Jenderal Sutarman, di Mabes Polri, Jakarta, Jumat 28 Oktober 2011.

Namun, kata Sutarman, jika pengakuan itu disertai saksi yang membenarkan bahwa pelakunya adalah OPM, maka polisi bisa menindaknya. Selain saksi, lanjut Sutarman, polisi juga membutuhkan barang-barang bukti yang bisa dihubungkan dengan pengakuan dari saksi terkait.

“Kalau keterangan saksi cukup dan alat bukti juga cukup, maka langsung masuk tahanan,” ujar Sutarman. Jadi, imbuhnya, dalam menyelidiki kasus di Papua, yang paling penting dalam membuktikan kasus adalah barang bukti.

“Jadi dasarnya bukan analisis atau apapun. Yang penting adalah alat bukti,” tegas Sutarman. Sebelumnya, Polres Puncak Jaya, Papua, menerima surat dari kelompok separatis yang mengaku OPM pimpinan Purom alias Okinak Wonda. Dalam surat itu, kelompok ini mengklaim sebagai pelaku penembakan dan perampasan senjata Kapolsek Mulia Komisaris Pol Anumerta Dominggus Awes.

Surat OPM itu ditandatangani oleh Purom Wonda, dengan cap Markas Rayon I Kodam X TNP OPM. Kelompok ini juga mengaku bertanggung jawab atas serangkaian aksi teror dan penembakan di Kota Mulia, Papua. (sj)

Post a Comment