forum

Gelar Aksi, Mahasiswa Papua di Jogja Tuntut Usut Tuntas Pelanggaran HAM di Paniai

Yogyakarta,(01/04/15) -  Puluhan mahasiswa Papua yang tergabung dalam Gerakan Melawan Lupa Kasus Pelanggaran HAM Berat Paniai (GEMPA-KPH-BERAPI), kembali menggelar aksi menuntut pengusutan kasus pelanggaran HAM terhadap 5 pelajar SMA yang ditembak mati dan puluhan rakyat luka-luka, pada tanggal 8 Desember 2014 lalu.
Dalam pernyataannya, GEMPA-KPH-BERAPI, menutut kepada pemerintah Indonesia, rezim Jokowi - Yusuf Kalla untuk menepati janjinya kepada rakyat Papua, pada saat melakukan kampanye di Papua. Dimana, dalam kampanenya, Jokowi berjanji akan mengusut dan menyelesaikan semua kasus pelanggaran HAM yang terjadi di Papua, namun belum genap 100 hari menjabat sebagai kepala negara, justru terjadi kasus pelanggaran HAM berat di Kab. Paniai yang menewasan 5 pelajar SMA, untuk itu, GEMPA-KPH-BERAPI menuntut kepada pemerintah Indonesia untuk bertanggung jawab atas penggaran HAM yang terjadi di Paniai dan seluruh tanah Papua.
Selain itu, GEMPA-KPH-BERAPI juga menuntut kepada Komnas HAM Indonesia untuk segera mengungkap pelaku pelanggaran HAM yang terjadi pada tanggal 8 Desember 2014 lalu, di Kab. Paniai. Gempa-KPH-Berapi menilai bahwa, semestinya hasil infestigasi yang dilakukan oleh Komnas HAM sudah memiliki cukup bukti-bukti, untuk dapat menyimpulkan dan mengungkap siapa pelaku penembakan terhadap 5 pelajas SMA dan puluhan rakyat sipi di Paniai. 
Demianus Nawipa selaku koordinator Gempa-KPH-Berapi ketika dimintai keterangan mengungkapkan bahwa, "Komnas HAM butuh bukti seperti apa lagi, sebab dari kronologis kejadian dan beberapa bukti-bukti yang sudah ada, tentunya Komnas HAM sudah dapat menyimpulkan siapa pelaku pelanggaran HAM tersebut, sebab peristiwa ini terjadi pada pagi hari dan itupun disaksikan oleh banyak orang, dan kejadiaanyapun di depan publik, sehingga sebetulnya anak kecilpun dapat menyimpulkan siapa pelaku penembakan tersebut". tegas Nawipa.
Nawipa kembali menambahkan bahwa, " kami turun ke jalan ini untuk menuntut janji yang diberikan oleh Jokowi kepada rakyat Papua pada saat kampanye di Papua, dan juga menuntut kepada Komnas HAM, agar dapat secepatnya mengungkap pelaku pelanggaran HAM di Paniai, secara Independen, tanpa terpengaruh intervensi dari pihak manapun, dan juga menuntut agar pelaku untuk diadili berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku di negara ini, serta dijatuhi hukuman yang sesuai dengan perbuatan mereka. Kami tahu, bahawa  pelaku adalah Militer Indonesia (TNI-Polri) sehingga kami tidak ingin pelaku diadili di pengadilan militer, tetapi pelaku harus diadili di pengadilan Umum, agar tidak ada penyelewengan dalam putusan yang akan dijatuhkan kepada pelaku". tegas Nawipa mengakhiri. [rk]

Korban Penyiksaan Minta Anggota Brimob Diproses Hukum


Jayapura, Jubi – Lis Tabuni, keluarga korban dari dua dua mahasiswa, satu pelajar dan satu pemuda yang diduga  dianiaya oleh anggota Brimob hingga babak belur di Pasar Cigombong, Kotaraja Dalam mengatakan kasus yang menimpa adik-adiknya itu harus diproses secara hukum. Supaya keluarga korban mendapat keadilan.

“Kami keluarga korban minta supaya kasus ini tetap diproses. Karena kami ingin tahu, alasan paling mendasar anggota Brimob melakukan penganiayaan terhadap adik-adik saya itu apa. Selain itu kami juga ingin agar pelakunya segera diungkap,” kata Lis Tabuni saat dihubungi Jubi melalui telepon genggamnya, Minggu (29/3/2015).

Kata dia, kami ingin kasus ini diproses. Karena adik-adiknya tidak tahu menahu apapu yang terjadi sebelumnya. Lalu aparat menghadang mereka di jalan dan langsung melakukan penganiayaan. Sehingga kasus tersebut harus diproses supaya aparat tidak kebal hukum.

“Kami ingin sampaikan bahwa, hingga saat ini pimpinan brimob maupun dari pihak Propam Polda Papua tidak ada respon tentang kasus ini. Padahal kami sudah melaporkan. Dan untuk mencari tahu pelakunya itu sangat mudah. Ini terkesan seperti kasad Brimob Polda Papua maupun Kapolda Papua melindungi bawahannya,” kata Tabuni.

Sementara itu, Olga Hamadi, pengacara kasus penganiayaan yang diduga  dilakukan oleh anggota Brimob di Kotaraja dalam sudah dilaporkan kepada Propam Polda Papua. Tetapi hingga saat ini belum ada respon.

“Kami juga ingin kasus ini tetap dilanjutkan. Tetapi hingga saat ini tidak ada tanggapan dari laporan yang sudah pernah kami masukan ke Propam Polda Papua. Tetapi bagaimana pun caranya, kami akan tempuh langkah apa saja. Karena kalau dibiarkan aparat akan melakukan tindakan-tindakan brutal semaunya,” katanya kepada Jubi di Waena, Sabtu (28/3/2015).

Kata Olga, baik dari Kasat Brimob Polda Papua maupun dari pihak Polda Papua belum ada respon. Untuk tindak lanjut kasus ini, pihaknya menuggu respon dari kedua pihak terkait.

Seperti diberitakan Jubi sebelumnya, pengeroyokan yang diduga dilakukan oleh anggota Brimob dua jam setelah terjadi perkelahian antara anggota Brimob dan masyarakat di Mal Ramayana. Dan keempat anak ini adalah korban salah sangka. Karena anak-anak tersebut berasal dari gunung maka angggota Brimob mengira mereka juga merupakan bagian dari masyarakat yang tadinya berkelahi dengan anggota Brimob.

Akibat dari pengeroyokan itu, Eldi Kogoya (18) mengalami tulang rusuk retak dan luka memar di belakang tubuh akibat diseret di aspal jalan dan kedua lutut lecet.

Timotius Tabuni (18) mengalami gigi bagian depan satu lepas dan satunya retak. Selain itu kepala luka bocor, bagian belakang badan tergores karena ditikam dengan pisau sangkur, muka lebam, dan lecet akibat pukulan, mulut luka dan kedua lutut lecet.

Lesman Jigibalom (23) ditusuk dengan pisau sangkur dibagian bahu kanan, sampai paru-paru kana bocor dan luka memar di seluruh tubuh. Lesman dioperasi pada 19 Maret karena paru-paru bocor akibat ditusuk dengan pisau. Dan Lesman masih kritis dan sedang mendapat perawatan di rumah sakit Bhayangkara.

Mies Tabo (14) luka memar di kepala bagian depan, belakang, pundak kiri dan kanan akibat diseret di jalan aspal. Dahi lecet dan lutut kiri maupun kanan juga lecet.

Untuk diketahui, Lesman Jigibalom (23) ditusuk dengan pisau sangkur dibagian bahu kanan, sampai paru-paru kana bocor, telah pulang dari rumah sakit pada hari Kamis pekan kemarin setelah menjalani operasi. (Jubi/Arnold Belau)

Asrama Brimob Merauke Papua Terbakar

Asrama Brimob di Papua terbakar (Foto: ilustrasi)
Jayapura - Tiga barak bujang dan empat rumah barak keluarga Brimob Detasemen Pelopor B Merauke, Papua hangus terbakar.
Kepala bidang hubungan masyarakat Polda Papua Kombes Pol Patrige ketika dikonfirmasi membenarkan peristiwa itu.
"Menurut dua saksi mata, kebakaran terjadi sekitar pukul 04.30 WIT," kata Patrige, Minggu (29/3/2015).
Ia menjelaskan peristiwa itu bermula dari saksi pertama Bripka Agus terbangun mendengar suara barang jatuh dari sebelah rumah (barak bujang) sehingga ia keluar rumah dan melihat api sudah membesar.
"Spontan saja saksi pertama berteriak ada kebakaran sehingga, saksi kedua, Bripka Hamdani datang dan memberi tahukan kebakaran tersebut ke piket penjagaan Mako Brimob serta membunyikan alarm," katanya.
Mendengar bunyi alarm, penghuni asrama dan piket Mako Brimob keluar dan berusaha memadamkan api.
"Lalu, pada pukul 05.20 WIT pemadam kebakaran dari Bandara Mopah Merauke tiba untuk memadamkan api yang dibantu dua tangki air sehingga api dapat dipadamkan," katanya.
Terkait kerugian materi akibat kebakaran itu, Patrige memperkirakan sekitar Rp1 miliar.
"Kebakaran yang terjadi di Asrama Sub Den I Den B Merauke tersebut terjadi diduga kuat adanya arus pendek listrik mengingat bangunan barak bujang tersebut sudah lama dibangun dan plafon yang sudah usang sehingga mudah terjadi kebakaran," kata Patrige menduga.
Sementara itu, para penghuni asrama dan rumah yang terbakar akan ditampung di dalam Mako Brimob dengan menggunakan tenda lapangan.
"Tidak menutup kemungkinan Anggota Sub Den I Den B Merauke yang menempati asrama tersebut akan sulit mendapatkan tempat tinggal mengingat bangunan tersebut sudah tidak dapat lagi ditempati dan perlu adanya pembangunan kembali," tutupnya.(crl)

Sumber : www.okezone.com

Gempa 7,7 SR Guncang Lepas Pantai Papua Nugini

Lokasi gempa di lepas pantai Papua Nugini. Foto: GDACS
Gempa mengguncang lepas pantai dekat Pulau New Britain, Papua Nugini. Belum dipastikan apakah tsunami bisa terjadi akibat gempa berkekuatan 7,7 skala Richter ini. Sejumlah warga di lepas pantai dekat Papua Nugini dan Kepulauan Solomon diminta tetap waspada. 

Dilaporkan, gempa terjadi di 54 kilometer dari kota Kokopo Panguna di Pulau New Britain, dengan kedalaman sekitar 65 kilometer, demikian laporan Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS). 
Seorang karyawan di Rabaul Hotel, dekat Kokopo, mengatakan kepada ABC bahwa getaran tanah bisa dirasakan sekitar lima menit. Tetapi belum terlihat adanya kerusakan besar.
Sementara itu Pusat Peringatan Tsunami Pacific di Hawaii mengatakan, "berdasarkan parameter gempa awal ... gelombang tsunami berbahaya mungkin terjadi bagi pantai yang terletak sekitar 1.000 kilometer dari pusat gempa di sepanjang pantai Papua Nugini dan Kepulauan Solomon".
Tidak ada kepastian soal Tsunami Pasifik yang merusak, tetapi gelombang mencapai 1 sampai 3 meter di atas permukaan air pasang mungkin terjadi di sejumlah lepas pantai di Papua Nugini.

Gelombang kurang dari 30 cm di atas permukaan air pasang diperkirakan terjadi di sejumlah lepas pantai di Australia, Jepang, Filipina, Kaledonia Baru, Northern Marianas, Guam, Palau, Yap, Pohnpei, Chuuk, Kosrae, Kepulauan Marshall, Fiji, Samoa, Kepulauan Cook, Tokelau, Vanuatu, Kiribati, Nauru, Pulau Wake, Johnston Island, Howland and Baker, Tonga, Tuvalu, Wallis and Futuna, Kepulauan Solomon, Indonesia dan sejumlah Kepulauan Hawaii.

"Mereka yang terletak di wilayah pesisir yang terancam diminta untuk tetap waspada dan ikuti terus informasi, serta mengikuti instruksi dari pemerintah pusat dan daerah," kata Pusat Peringatan Tsunami Pacific. 


Sumber : www.radioaustralia.net.au

Minta Indonesia Kurangi Militer di Papua, Pernyataan O’Neill Dinilai Sangat Keras

Jayapura, Jubi – Dr Richard Chauvel dari University of Melbourne Asia Institute mengatakan ia belum pernah mendengar pernyataan yang keras dari seorang pemimpin Papua Nugini (PNG), ketika mereka berbicara tentang Papua Barat yang merupakan salah satu provinsi di Indonesia. Namun pernyataan Perdana Menteri PNG, Peter O’Neill saat diwawancarai Radio Australia Jumat (27/3/2015) adalah pernyataan yang sangat keras dan berpotensi mempermalukan Indonesia.
“Keterusterangan Peter O’Neill meminta pertanggungjawaban pemerintah Jokowi untuk memenuhi komitmen presiden sebelumnya, Soesilo Bambang Yoedhoyono (SBY) adalah kejujuran yang sangat luar biasa,” kata Richard Cauvel setelah O’Neill diwawancarai Radio Australia, Jumat (27/3/2015).
O’Neill saat berada di Australia untuk menghadiri pemakaman Malcolm Fraser, mantan Perdana Menteri Australia telah diwawancarai oleh Radio Australia terkait Papua Barat. Dalam wawancara ini, O’Neill meminta pemerintah Indonesia memenuhi janji mengurangi personel militer di Papua Barat.
Menurut O’neill, pengurangan personel militer ini adalah janji presiden SBY saat ia bertemu dengan mantan Presiden Indonesia ini dalam pertemuan bilateral antara Indonesia dengan PNG di Jakarta.
“Kami akan terus mencoba untuk memastikan bahwa pemerintah Indonesia saat ini juga memiliki pandangan yang sama tentang pengurangan kehadiran militer di Papua. Dan otonomi yang lebih luas tentu lebih baik untuk rakyat Papua Barat,” kata O’Neill kepada Radio Australia.
Pernyataan inilah yang disebut oleh Richard Chauvel, seorang ahli Papua Barat, sangat keras dan berpotensi untuk mempermalukan pemerintah Indonesia.
“Tapi dia (O’Neill) juga sangat berhati-hati dalam caranya menghubungkan pernyataan untuk pelaksanaan otonomi yang lebih efektif untuk Papua Barat dan juga tanggung jawab Indonesia sebagai anggota masyarakat internasional,” kata Chauvel kepada Jubi melalui sambungan telepon, Sabtu (28/3/2015).
Chauvel bahkan meragukan pernyataan versi Indonesia tentang pertemuan Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi dengan O’Neill baru-baru ini.
“Versi Indonesia terhadap pertemuan dengan Mr O’Neill, bagaimanapun, sangat jauh berbeda,” ujarnya.
Dr Richard Chauvel pernah menjadi konsultan untuk International Crisis Group (ICG) di Papua dan laporannya diterbitkan tahun 2001 oleh ICG dengan judul “Indonesia: Ending Repression in Irian Jaya”. (Victor Mambor)

Sumber : www.tabloidjubi.com

Suh Korok Kepada Keluarga Laki-laki

Suh erat hubungannya dengan kaum perempuan.(Jubi/ist)
Jayapura, Jubi- Mama merajut Su atau Noken semenjak bayinya masih dalam kandungan sang mama. Masyarakat Wamena masih mengganggap tidak tahu malu dan tidak tahu adat jika menjenguk bayi tanpa membekali hadiah sebuah noken. Ini sebuah tradisi yang sudah ditanamkan sejak moyang yang artinya seorang bayi yang baru lahir dengan polos dan tanpa busana ini harus dibungkus dalam noken, sebagai tempat tidur, dan untuk digendong oleh sang ibu saat beraktivitas. Ketika masyarakat mendengar kabar jika keluarganya yang sedang hamil dan telah melahirkan, mereka akan menjenguk sambil membawa Suh atau Noken yang telah disiapkan sebelumnya.
Su yang disumbang kelurga ini jumlahnya bisa mencapai 50 hingga 100 noken. Bahkan lebih tergantung jumlah keluarga sang ayah dan ibu dari bayi baru lahir tersebut.
Lalu apa yang akan dilakukan setelah noken-noken ini terkumpul? Tentu akan digunakan untuk menggendong si bayi . Tapi sebelumnya sebagian dari Su ini akan diserahkan kepada keluarga bapak dari sang bayi yang oleh masyarakat Wamena menyebutnya suh korok.

Korok (melepaskan dari gantungan) artinya melepas Su dari gantungan dan menyerahkan kepada keluarga sang ayah dari si bayi, sebagai bentuk melepaskan beban. Korok harus diserahkan kepada keluarga ayah bayi baru lahir tersebut tidak meneruskan marga atau fam kelurga perempuan, melainkan keluarga laiki-laki sehingga Korok harus diserahkan kepada pihak laki-laki.
Setelah sebagaian dari noken atau suh tersebut dibagi sebagai Korok kepada keluarga Selebihnya su yang telah disumbang keluarga digunakan sebagai tempat untuk mengisi atau menggendong bayi.
Tradisi mengisi bayi kedalam noken atau suh tidak serta merta mengisi bayi tersebut kedalam noken tapi di sini ada juga aturannya tersendiri.
Su yang terkumpul tersebut selanjutnya akan dibagi menjadi tiga bagian untuk mengisi bayi, masing-masing “Aleka, A Su” (tempat isi bayi), “salek” penutup Lapisan ke dua dan “Asu Lakulik” atau penutup paling luar. Ketiga lapisan ini masing-masing akan disisipkan empat lembar Su.

Empat noken pada lapisan pertama atau yang disebut dengan Aleka Su . Asu akan disatukan dan diikat sebagai tempat untuk mengisi bayi. Sebelum memasukan bayi pada bagian ini, dahulu sebelum adanya pemerintah akan disi daun pisang dan beberapa daun lain sebagai alas. Namun diera sekarang, lapisan ini akan dimasukan kain dan bantal menggantikan daun pisang tersebut.
Sementara empat noken lainnya dilapisan kedua yang disebut Salek sama halnya dengan Aleka Su. Bagian ini juga akan diikat jadi satu, tapi salek tidak bisa mengisi bayi, karena empat lembar. Noken tadi bukan disatukan layaknya empat su pertama melainkan disusun.
Selanjutnya lapisan paling luar adalah Suh Lakulik. Bagian ini yang biasanya harus pilih Su atau noken yang warnanya menarik, bagian paling luar ini tidak bisa dipasang sembarang noken. Biasanya akan dipilih oleh para ibuh yang suda cukup berpengalaman untuk menentukan warna maupun kualitas dari noken tersebut,
Setelah dipilih empat noken, sama halnya lapisan pertama dan ke-dua, Lapisan ini juga akan diikat jadi satu. Tapi cara mengikatnya tidak seperti lapisan-lapisan sebelumnya. Caranya setiap pegangan dari ke-4 noken tersebut akan dililit jadi satu sampe tidak kelihat bagian pangkal bawa sehingga orang awam akan sulit membedahkan bagian pangkal dan ujung atau pegangan dari Noken tersebut.

Dalam penggunaannya lapisan ini sewaktu-waktu bisa dirubah –penampilan luarnya. Dalam hal ini dari empat noken pada lapisan ke-tiga tersebut sang ibu dari si bayi sewaktu- waktu bisa gonta-ganti noken dengan warna yang berbeda setiap saat, jika ingin menggantinya.
Setelah semua tahapan ini dilalui, selanjutnya si bayi baru lahir akan di isi kedalam Suh atau Noken sebagai tempat tidur tetapi juga sebagai tempat gendong saat sang ibunya beraktivitas. Cara menggendongnya bukan di lengan sebagaimana penggunaan tas modern melainkan di kepala. Dari kepala posisi noken menggantung ke bagian belakang dan posisi bayi persis di bagian punggung ibunya.
Meski saat ini masyarakat tidak lagi merajut noken/suh dari bahan alami (kulit beberapa jenis kayu) melainkan noken yang dirajut dari benang modern. Tapi tradisi ini masih berlaku bagi masyarakat Dani di Lembah baliem – Wamena. Keluarga akan marah jika seorang ibu yang menggendong anaknya tidak dengan Noken/ Su. Naik Motor pun mama di Wamena tetap menggantung Suh yang berisi bayi di kepala menggantung ke bagian punggung(Ronny Hisage/Selesai)
Sumber : www.tabloidjubi.com

 

Google+ Followers